Bawang Merah atau Bawang Putih?

Bawang Merah atau Bawang Putih?
Foto: pixabay

Dalam fiksi, penulislah yang memutuskan alias memilihkan tokoh protagonis dan antagonis. Singkatnya, protagonis adalah tokoh baik, dan sebaliknya untuk antagonis. Dasar pertimbangannya, sangatlah subyektif dan suka-suka penulisnya.

Dalam cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, si pengarang memilihkan si Bawang Merah sebagai antagonis. Apakah karena si Bawang Putih memakai kata putih, yaitu warna yang secara umum mencerminkan kesucian, sehingga dia dipilih jadi tokoh baik? We never know. Tidak ada yang tahu siapa pengarang cerita ini, sehingga tak ada yang menanyakannya.

Lain halnya jika kita di dapur. Bawang merah dan bawang putih lebih sering akur, bersama dengan bumbu lain, membuat masakan menjadi lezat. Memang, mereka tidak selalu bersama sih. Kadang di masakan-masakan tertentu hanya ada salah satu dari antara mereka.

"Pakai saja bawang putih dan garam. Itu sudah cukup," begitu doktrin ibu ke aku saat aku kecil. Waktu itu, paling pol aku bantuin prepare bahan dan bumbu. Ntar masaknya, ibu yang handle. Aku biasanya nemenin sambil ngelihat ibu masak.

Bertahun kemudian, aku beneran masak saat merantau dan ngontrak rumah bersama sahabatku. Di masa-masa pengiritan, yang namanya masak sendiri itu jelas jauh lebih murah daripada beli makanan jadi. Bermodalkan hobi baca buku (termasuk buku resep! hahaha) dan mengamati ibu memasak zaman itu, aku tak gentar urusan memasak. Hanya saja, saat itu aku langsung menyadari bahwa aliranku adalah simplicity, alias masakan berbumbu simpel.

Masak masakan Jawa, Bali, atau India yang berbumbu lengkap? Ga pernah menarik hatiku untuk mencoba memasaknya. Haha. Kalo makan sih... ayo saja! Urusannya lain kan?

Balik lagi ke urusan bawang merah dan bawang putih itu tadi. Meskipun awalnya hanya memakai bawang putih dan garam saja untuk memasak (terutama aneka tumis), akhirnya aku mengamati dan bereksperimen dengan berbagai bumbu.

Aku yang semula mengidolakan bawang putih, lama-lama ngelirik si bawang merah. Masak sayur bening (pakai bayam dan tomat), si bawang merah ternyata tanpa si bawang putih kok. Si bawang merah malah ber-partner sama temu kunci, kalo ga ya sama kencur.

Aku lupa siapa yang ngajarin, bikin nasi goreng pakai bumbu bawang merah dan ketumbar. Ketumbarnya disangrai dulu, lalu diuleg bersama garam dan bawang merah, baru ditumis sebelum nasi masuk wajan. Kalo mau versi bawang putih, berarti bumbu nasi goreng pakai bawang putih dan merica.

'Tidak pakai bawang' begitu tulisan yang terpampang di sebuah warung vegan di Denpasar. Itu pertama kali aku tahu ada penjual makanan vegan! Serasa nemuin kapal penuh harta karun dah! Masakannya aneka macam, yang semuanya enak. Terus? kalo tidak pakai bawang, pakai apa dong? Kok bisa enak?

Sebagian kalangan vegan tidak mengonsumsi aneka bawang: bawang putih, bawang merah, bawang bombay, daun bawang pun tidak. Mereka sangat hati-hati urusan makanan, termasuk bumbu-bumbu. 'You are what you eat' jadi semacam semboyan. Makanan rajas (membuat panas) dan tamas (membuat malas) dihindari, dan mengusahakan makanan satvik (yang 'menghidupkan').

Peran bawang putih diganti kemiri. Penggunaan bumbu-bumbu lain ditingkatkan (salam dan laos misalnya). Nah, bawang merah goreng diganti dengan irisan (tipiiis) kol goreng. Jamur juga dimaksimalkan fungsinya sebagai bumbu. Jadi, tanpa memakai bawang merah dan bawang putih pun, masakan tetap lezat kok.

Menurut riset, rasa enak yang kita kenali dengan lidah, urusannya sama rasa 'umami'. Selain daging hewani, rasa umami ini ada di bahan nabati, misalnya jamur. Pernah coba penyedap rasa berbasis jamur? Kalo yang alergi jamur, gimana dong? Bereksperimenlah dengan sayur dari laut, misalnya rumput laut. Selain nori, ada banyak kok jenis yang lain. Tak hanya cocok sebagai bahan sup, rumput laut juga bikin nasi goreng jadi nikmat, juga saus pasta jadi ... hhhmmm... Yuk coba? (rase)