Bapakku Bajingan

Bapakku Bajingan


“Mar, tolong angkatin belanjaan ibu ke dapur ya.”

“Uma, sebelum berangkat, bantu ibu peras santan dulu nanti” 

“Ya, Buuu”, Umar dan Kusuma menyaut berbarengan.

Begitu setiap pagi ketika becak yang kutumpangi tiba dari pasar. Aku tak perlu berteriak sebenarnya pada dua buah hatiku Umar dan Kusuma karena mereka pasti sudah menunggu kedatanganku di dekat pintu masuk pagar bambu rumah kami. 

“ Tarok di dapur aja dulu ya. Ibu mau mandiin Bapak dulu,”
“Oh iya, hampir lupa. Bawang merahnya dikeluarin terus jemur ya Ma. Biar gak busuk”

Dulu sewaktu Mas Darmo masih narik untuk ngangkut ayam beku dari pabrik Pak Agung di Bumiayu, aku hanya buka warung kelontong kecil di depan rumah. Lumayanlah untuk tambahan kebutuhan anak-anakku sehari-hari.  Tapi sejak kecelakaan Mas Darmo dua tahun lalu, aku harus berjibaku sejak pagi buta hingga menjelang senja karena kini warung makan jadi andalan hidup kami.

“Pak, kita mandi dulu yuk biar seger”, kataku membujuk mas Darmo agar mau dilap dengan air hangat. Terkadang dia menolak karena dinginnya pagi. Kalau lebih siang aku tak punya cukup waktu untuk persiapan buka warung. Tapi pagi ini mas Darmo lebih bersahabat, bahkan bersemangat. “Ayo Bu, cepetan ya biar gak dingin,” katanya mengijinkanku. “Tapi abis ini langsung sarapan ya, udah laper banget,” pintanya penuh harap.

Ya, sejak kecelakaan itu mas Darmo hanya bisa bergerak jika dibantu. Akibat patah tulang belakangnya, kedua kaki mas Darmo tak bisa digerakkan karena lumpuh. Aku sempat marah pada Tuhan kenapa semua ini menimpaku? Apa salahku? Tak cukupkah baktiku pada mas Darmo yang banting tulang demi pendidikan tinggi kedua buah hatiku? Dan berbagai keluhan lain yang terus menderaku.

Tapi ketika kupandangi bola mata kedua malaikatku yang seolah memancarkan sinar penuh harap, “Tolong bangkit Ibu, kami membutuhkanmu,”  Seketika kekuatan itu hadir dalam diriku. Tidak! Aku tidak boleh lemah dan berputus asa. Mereka harus terus sekolah sampai sarjana. Itu cita-cita aku dan mas Darmo dan tak boleh berubah, harus terlaksana.

***
Bagiku Ibu adalah malaikat yang menjelma sebagai manusia. Aku tak pernah melihatnya mengeluh apalagi marah-marah.

Bayangkan, tengah malam saat aku masih terjaga karena tugas akhirku yang masih butuh analisa, Ibu sudah kembali khusuk dalam tahajudnya. Padahal Ibu baru bisa membaringkan tubuhnya saat selesai sholat Isya.  Sebelum adzan subuh bergema, Ibu sudah di atas becak yang menjemputnya. Ibu harus belanja berbagai keperluan warung makan yang akan kami buka sampai menjelang senja.

Bapak, bukan orang yang suka berleha-leha. Bapak adalah seorang pekerja keras yang banting tulang untuk keluarga. Pergi pagi buta membawa truk berisi ayam beku ke berbagai penjuru Jakarta. Kadang Bapak bisa pulang dini hari atau besok lusa. Aku tahu Bapak lelah tapi Bapak selalu menyempatkan diri ngobrol bersamaku dan Umar, adikku. Terutama untuk hal yang berkaitan dengan sekolah. 
Bagi Bapak dan Ibu, pendidikan itu nomor satu. 

“Bapak, mau kalian jadi sarjana. Gak usah kalian pikirkan uangnya dari mana. Pokoknya ada”, begitu kata Bapak selalu.

“Tugas kalian itu belajar dan belajar pokoknya. Jangan kayak  Ibu, cuma bisa baca tulis tok,” itu yang sering ditambahkan Ibu.

Bapak tetap menjadi pahlawanku walau kini sangat tergantung pada Ibu. Ibu yang selalu menjadi malaikat keluargaku.

***
Aku malu. Malu pada Mila, istriku. Malu pada Umar dan Kusuma, kedua mata hatiku. Seandainya mereka tahu betapa bobroknya akhlakku, mungkin mereka akan meninggalkanku sejak dulu.

Seandainya dulu, semua penghasilanku aku berikan pada Mila, dia tak harus buka warung untuk tambahan kebutuhan anak-anakku. Seandainya waktu itu aku tak buru-buru karena nafsu untuk memuaskan syahwatku, aku tak akan lumpuh.

Tak terhitung berapa banyak perempuan paruh baya dengan berbagai gaya dan daya upaya yang sudah aku perdaya. Aku tak suka pada mereka yang masih belia, karena akan mengingatkanku pada Kusuma. 

Aku selalu pulang dengan penghasilan yang tinggal seadanya. Tak ada keluhan dari Mila, selalu diterimanya dengan lapang dada. Padahal kenikmatan dunia sudah ribuan kali aku raup entah dengan siapa saja. Jangan tanya namanya, aku sudah lupa. Hanya rasa yang aku ingat karena itu begitu nikmat. 

Setiap deru mesin dan putaran roda truk yang kujalankan, setiap kali itu pula darahku mengalir deras, jantungku berdebar kencang. Otakku terus memikirkan rencana-rencana bejat memuaskan syahwat. Tak ada lagi Umar dan Kusuma apalagi Mila. Aku benar-benar dikuasai nafsu syahwat setan keparat! 

Ya Tuhan, ampuni aku Tuhan. Mereka tidak tahu betapa kotornya aku. Mereka tidak mengerti bagaimana bejatnya aku. Yang mereka lihat hanya aku yang seolah banting tulang penuh peluh. Yang mereka tahu aku yang terlihat penuh semangat agar anak-anakku bisa terus menuntut ilmu. Mereka tidak pernah menyadari sebenarnya aku adalah penipu! Aku yang liar bersyahwat dengan siapapun yang aku mau! Aku yang berlumur kotoran maksiat di sekujur tubuhku….
Seandainya mereka tahu, akankah mereka memaafkanku? 

Seandainya mereka tahu, apakah mereka akan terus bersamaku?

Aku malu Yaa Tuhanku. Aku takut Wahai Penggenggam nyawaku.

Ampuni aku, Wahai Pemilik Hidup. Siksamu aku tak akan sanggup.

***
Bapak bajingan tengik! Aku benci mbak Kusuma yang selalu mengagung-agungkan Bapak. Katanya Bapak orang yang hebat. Katanya Bapak pahlawan. Tai!

Aku kasihan pada Ibu. Aku tau Ibu selalu menderita seumur perkawinannya dengan Bapak. Ibu belum pernah bahagia. Ibu tak pernah dianggap. Ibu selalu dilecehkan. Ibu dibilang gak seksi, Ibu dibilang bau. Kalau bukan karena Ibu, sudah kutampar Bapak biar mati kutu!

Sejak kecil aku seringkali terbangun dari lelapku ketika kudengar suara Bapak yang marah pada Ibu hanya karena handuk kecil yang biasa dia bawa belum ketemu. Atau aku dengar Ibu bilang mbak Kusuma butuh uang tambahan untuk fotokopi tugas akhirnya, Bapak dengan seenak jidatnya menjawab, “Ambil dari warung. Aku gak ada uang lagi”. Dan yang paling parah aku pernah dengar Bapak bilang, “Kamu belum mandi? Bauk tauk! Geseran sana tidurnya!”.  Sadis, kan?
Seringkali aku mendapati Ibu menangis sambil mencuci baju Bapak yang penuh noda gincu. Tak jarang Ibu menghela nafas panjang tatkala menghitung pemberian Bapak yang hanya cukup untuk dua minggu. 

Aku muak dengan lagaknya yang sok suci kayak pak haji padahal munafiknya setengah mati. Pengen anaknya jadi sarjana padahal dia tebar pesona kemana-mana. 

Dia pikir tak ada yang mengerti. Dia kira tak ada yang curiga. “Jejakmu ada dimana-mana, Pak! Ginju di baju. Viagra di celana!” itu jerit hatiku setiap kali aku melihat wajahnya. 

Ingin rasanya aku bilang, “Aku tau sepak terjangmu! Jadi kalau Bapak sekarang seperti itu, itu karena Tuhan Maha Tahu apa yang pantas bagimu!”


Tapi aku tak pernah mampu. Walau bagaimana, laki-laki yang kini tak berdaya itu adalah Bapakku.

Bassura, 26 Maret 2020.