Balada Miskomunikasi dan Hubungannya Dengan Efektivitas Work from Home

Halo.. apakah suara saya bisa terdengar dengan jelas.. Maaf putus-putus.. *lalu hilang tanpa jejak whoosh macam jelangkung

Balada Miskomunikasi dan Hubungannya Dengan Efektivitas Work from Home
Photo by Magnet.me (unsplash.com)

Covid oh Covid kenapa engkau datang..

Macam mana aku tak datang.. (silakan isi sendiri)

 

Kala pandemi Covid-19 tentu saja berpengaruh terhadap semua aspek kehidupan kita, mulai dari pekerjaan sampai urusan anak sekolah semuanya terdampak. Semuanya jadi serba daring, beli sayur pun sudah bisa dilakukan tanpa perlu keluar rumah. Tentu saja yang paling disorot dari dampak Covid adalah dalam sektor ekonominya, terutama kesejahteraan pekerja yang saat Covid ini seperti terombang-ambing pasang-surut gelombang PHK. 

 

Yang jadi fatal dari sini adalah apakah semua pekerjaan benar-benar bisa dikerjakan dan dikoordinasikan secara daring? tentu tidak juga seperti pekerjaan yang butuh sentuhan tangan manusia secara langsung misalnya saja operator mesin di Pabrik, mana bisa dibawa pulang ke rumah, bisa-bisa tetangga nyap-nyap dibikin geram sampai kebas akibat bunyi-bunyi mesin yang nyaring jadinya musik dangdut tiktok yang biasa diputar kencang sampai telinga pengang berdistorsi satu sama lain jadilah civil war

 

Para pekerja pun berkeluh-kesah, pro dan kontra terhadap sistem kerja ini, terutama sebut saja EH dan EM yang berbeda bidang pekerjaan namun mengeluhkan masalah yang hampir sama, yaitu miskomunikasi. Keluhan ini sangat dirasakan terutama ketika terbiasa bekerja secara dari kantor kemudian tiba-tiba berubah harus di rumah dan mengandalkan jaringan internet dan tentu saja telepon genggam atau komputer maupun laptop untuk berkomunikasi, dan tak lupa juga berbagai platform daring yang biasa digunakan seperti zoom, microsoft team, maupun google meet.

 

Hal yang harus dipahami adalah tidak semua orang bisa paham dan mengerti instruksi yang hanya ditulis secara visual, ada yang langsung paham jika mendengar suara langsung dari orang lain ada pula yang sekali baca saja langsung paham, setiap orang punya karakteristik yang berbeda-beda.

 

"Kalau tidak dibalas pesan secara personal, maka saya bakalan mention orangnya di grup yang sudah termasuk dirut," kata EM, jika ada pekerjaan yang butuh respon cepat namun dibalas lambat.

Berbeda dengan EH, "Kata si ibu suruh besarin bagian ini, bikin kaya begini, tapi dia tidak tahu kalau hasilnya akan jadi tidak proporsional karena bagian yang dibesarkan itu akan berpengaruh terhadap elemen lainnya dalam desain jadi harus seimbang." 

 

Nah, dari sini kita bisa menyimpulkan kalau masalah-masalah komunikasi dapat menghambat kita dalam menyelesaikan pekerjaan, jadi tidak sesuai tenggat waktu yang telah ditentukan. Bisa dari masalah interpersonal dengan orang lain maupun internal orang tersebut yang tidak biasa bekerja dari rumah dan terdistraksi dengan hal di luar pekerjaan paling banyak adalah godaannya keinginan ingin bermain game dan media sosial.

 

Solusi yang bisa dibuat dari permasalahan ini adalah dengan dibentuknya sebuah sistem kerja baru khusus selama menjalani kegiatan bekerja dari rumah, dari sistem project management sampai alat komunikasi yang mestinya disepakati dari awal dan juga available time untuk dihubungi masing-masing anggota dalam tim harus disepakati jangan sampai ketika ada urusan soal pekerjaan yang mendadak, mereka tidak bisa dihubungi.

 

Project management tools dapat mempermudah kita untuk berkoordinasi pekerjaan dengan rekan satu tim, misalnya saja menggunakan airtable, slack, asana, maupun jira. Dengan menggunakan tools tersebut kita dapat mengelompokkan pekerjaan berdasarkan tingkat urgensinya dan masing-masing anggota tim pun tahu kapan tenggat waktu dan bisa langsung meminta review dan feedback atas pekerjaannya. 

 

Alat komunikasi tidak kalah penting, baik itu menggunakan whatsapp atau slack, biar bisa mention-mention orang dan komunikasi secara tidak langsung jadi lebih lancar, nah ini perlu ditanya apakah setiap anggota tim kita familiar menggunakan tools-tools yang akan dipakai dengan sistem yang baru selama work from home, jika tidak maka perlu diadakan sosialisasi sebelumnya agar semuanya paham, dan akhirnya dapat menunjang produktivitas.

 

Fasilitas mungkin juga diperlukan selama karyawan bekerja dari rumah misalnya laptop yang bisa dibawa pulang, jika biasanya menggunakan PC saat di Kantor. Saat bekerja dari rumah pun terutama kapten tim jangan lupa untuk selalu check-in dengan timnya supaya tau berbagai update soal pekerjaan, jangan sampai banyak hal jadi berantakan karena time management yang buruk.