Bala yang Tak Terduga

Ia bergerak tak beraturan seperti tersesat, lalu sembunyi di pojokan seperti ketakutan

Bala yang Tak Terduga
https://pixabay.com/photos/centipede-insects-home-centipede-1672189/

Aku memandang kedua anak-anakku Abang dan Adek yang sedang bermain di atas kasur kami. Abang si sulung 9 tahun 7 bulan dan Adek 1 tahun 1 bulan. Mereka berkejaran di atas kasur, mengacak-acak seprai yang tadi sudah licin. Sekarang lemari baju sedang jadi sasaran; baju yang sudah rapih terlipat ditarik keluar. "Mau fashion show, Mama", kata Abang saat aku melirik tajam. 

Aku menghela nafas, memandang TV yang sedang mati. Menimbang-nimbang ingin menyalakannya, atau ambil HP saja. Kuputuskan HP yang kupilih, karena pasti tayangan TV tak akan terdengar saat anak-anakku sedang bergelut. AC yang baru diservis kemarin berhembus dingin, membuatku mengantuk. Sebelum kelopak mataku tertutup sampai pagi, aku mengajak Abang sholat Isya dulu. 

Meskipun mulutku lancar melafalkan ayat demi ayat, pikiranku berkelana kemana-mana. Hingga satu saat aku terkejut, seekor kelabang cukup besar bergerak cepat ke arah sajadah. Aku melompat dan menarik Abang ke atas kasur, tempat Adek sudah bermain duluan di sana. Ia yang sedang mengasah giginya yang sedang tumbuh ikut terkejut dan naik ke pangkuanku. Aku dan Abang melanjutkan ibadah kami hingga selesai, sementara kelabang itu berputar-putar dan kemudian hilang ke balik meja. 

Setelah mengucapkan salam, aku meminta Abang menjaga Adek dan tetap berada di atas kasur. Perlahan aku mengintip ke balik meja. Kelabang itu bersembunyi di sana, seolah berharap aku tak menemukannya. Kuambil sebuah buku tebal dan kuketuk meja itu cukup keras. Sesuai harapanku, sang kelabang bergerak keluar membuatku bergidik ngeri. Dengan cepat kulemparkan buku di tanganku menimpanya. Untuk memastikan kelabang itu mati dan tidak tersiksa, aku menginjak buku itu beberapa kali, kemudian kuangkat buku tersebut perlahan. 

Kelabang itu sudah mati dalam posisi melengkung dengan kaki-kaki yang terlepas dari tubuhnya. Tanpa sadar aku mengucapkan, "Innalillahi wa innailaihi rojiun, apa yang diciptakanNya akan kembali padaNya". Dengan masygul aku mengambil selembar kertas dan menyelipkan ke bawah jasad hewan tak bernyawa itu, lalu membawanya ke pekarangan belakang rumah kami. Aku menjatuhkannya perlahan ke tanah sembari berdoa, semoga ia kembali ke dunia dalam wujud yang dicintai. 

Malam itu kami sekeluarga makan bersama, sembari mendengarkan cerita suamiku tentang pekerjaannya. "Tadi Papa sholat Dzuhur ada kejadian aneh," ujarnya misterius. Abang langsung tertarik, "Ada apa, Pa? Apa ceritanya?". Aku mengingatkan Abang untuk tetap menyuap makanannya. Bila ia tertarik pada sesuatu, Abang memang mudah teralihkan dan lupa pada kegiatan yang dilakukannya. "Waktu Papa sedang berdoa setelah sholat, ada seekor kelabang di sajadah yang datang entah darimana." lanjutnya. Aku terkesiap, dan seketika memandang wajah Abang yang memucat. "Barusan juga ada kelabang besar tiba-tiba datang waktu kita lagi sholat, ya kan Ma?" ujar Abang memastikan. Aku mengangguk, tanpa bersuara. 

Suamiku dengan tenang berkata, "Mungkin ini ada hubungannya dengan apa yang dikatakan teman Papa di kantor. Ada karyawan tidak suka keberadaan Papa yang dianggapnya mengacak-acak birokrasi yang ada. Teman Papa bilang, sudah banyak orang yang celaka saat memegang jabatan Papa ini." Kami kemudian menyelesaikan makan malam dalam diam, tidak melanjutkan percakapan yang mencekam tadi.

Waktu tidur tiba, kami berdoa dengan khusyuk dalam keyakinan bahwa hanya Tuhan yang bisa menyebabkan celaka pada keluarga kami. Malam itu dalam tidurku, seorang laki-laki muda yang menawan datang menghampiri. "Terima kasih Ibu, telah menolongku", ujarnya sambil tersenyum. Aku berusaha mengingat-ingat di mana aku bertemu dengannya, wajahnya seperti kukenal. "Aku telah lama hidup dalam kekacauan. Siapapun datang padaku dengan niat buruk untuk mencelakakan orang tanpa ingin mengotori tangan mereka. Aku jijik pada diriku sendiri yang menyakiti siapapun kehendak mereka tanpa inginku." laki-laki itu berkata sambil mengalihkan pandangannya dariku.

Apakah dia orang yang kutemui di jalan dan kuberi makan? Atau pengguna media sosial yang membaca tulisanku tentang kehidupan? Sepertinya ia lebih dekat dari itu kepadaku, seolah tanganku pernah merengkuhnya dari kesulitan. Aku kembali mencari sorot matanya, mencoba mencari jawaban atas identitasnya. Sebelum aku sempat bertanya, laki-laki muda itu kembali berkata, "Sekarang aku telah terbebas dari keterkukungan, aku ingin berguna sebelum akhir dunia. Sebagai balas jasaku, aku berjanji akan mencegah siapapun yang akan mencelakakan Ibu dan keluarga Ibu." Ia kemudian bersimpuh dan menggenggam tanganku, meletakkannya di atas kepalanya. 

"Doamu menjadikanku makhluk yang lebih baik, aku tak akan menyia-nyiakannya". Sembari melepaskan tanganku, ia merebahkan tubuhnya ke tanah tempatku berpijak, mencium kakiku, dan pergi menjalar menjauh tanpa berpaling lagi. Bulu kudukku meremang, air mataku mengalir menjadi sungai, mengisi jejak yang ditinggalkannya.