Bakmi tanpa Bak

Bakmi tanpa Bak
"Nggak ada warung bakso ya di sini," tanya saya tidak pada siapa-siapa.
 
Kami baru saja turun gunung. Setelah tiga bulan hidup di hutan dan makan makanan yang umumnya instan dan survival food, kangen juga dengan makanan kota. Sebagai anak Jakarta, apalagi sih yang saya kangeni kalau bukan bakso? Maka, sedikit saja melihat tatanan kota macam jejeran bangunan tembok, langsung saja berharap ada tukang bakso terselip di antaranya.
 
"Nggak adalah. Tapi, kabarnya ada tempat di mana kita bisa makan bakmi kuah," timpal teman saya.
 
"Mi-nya instan? Bosen, ah!" saya mencibir.
 
"Katanya sih mi biasa gitu. Denger-denger enak".
 
“Nah, itu baru kabar baik! Di mana?” tanya saya bersemangat.
 
Berhubung teman saya itu tak tahu di mana lokasi warung bakmi lezat tersebut berada, kami pun lalu mencari tahu bersama. Kota kecamatan ini tak seberapa besar, harusnya tak sulit untuk menemukan keberadaan sebuah warung makan.
 
Tapi, ternyata di situ tak ada satu pun warung makan. Tapi lagi, entah bagaimana kami berhasil menemukan lokasi  bakmi enak itu. Hanya saja, yang kami temukan bukan warung sebagaimana yang kami bayangkan.
 
"Selamat malam, apa di sini ada warung bakmi?" saya menyapa.
 
Sama sekali tak ada tanda-tanda perwarungan. Yang tampak hanya rumah kediaman biasa saja. Rumah tinggal sebuah keluarga keturunan Tionghoa, yang kemudian kami ketahui memiliki sebuah toko. Entah toko sembako atau kelontong.
 
"Oh ya, selamat malam" sambut bapak yang punya rumah.
 
Kami di persilahkan masuk dengan ramah. Dan, dipersilahkan duduk di set sofa di ruang tamu. Sekali lagi, tak ada tanda-tanda kehadiran sebuah warung. Tak ada aroma bakmi yang meruap menggugah selera.
 
Dengan cepat mata kami men-scanning situasi untuk meyakinkan diri. Ya, tak ada. Tak ada tanda-tanda sama sekali. Baik dari aroma maupun visual. Kalaupun warung sedang sepi, harusnya tetap ada set up tertentu yang khas warung tokh!? Sekali lagi, tak ada tanda apa-apa sama sekali.
 
"Kami bukan warung bakmi, tapi orang yang mau makan bakmi, bisa kami masakkan," kata bapak yang punya rumah.
 
Sepertinya beliau membaca pikiran kami. Atau, melihat gelagat kami yang lirik-lirik seperti mencari sesuatu. Untung beliau tak menganggap kami calon maling haha…
 
"Ooooo...," kor bersama saya dan teman saya.
 
Lega. Tapi, agak ragu. Karena, ini kan rumah pribadi. Gimana gitu rasanya.
 
"Jadi, kakak-kakak ini hendak makan bakmi, ya?" tanya si bapak.
 
"Iya," kor bersama teman saya dan saya.
 
"Masing-masing satu, jadi kami pesan dua porsi bakmi rebus, pak," kata saya.
 
"Bakmi?" tanya si bapak sambil mengernyitkan keningnya.
 
"Iya, bakmi. Yang rebus. Dua bakmi rebus," saya yang agak heran dengan pertanyaan si bapak, menegaskan pesanan.
 
"Baik, sebentar ya," kata bapak sambil beranjak ke dalam.
 
Saya dan teman saling pandang sambil tersenyum lebar. Senangnya hati kami!
 
"Asyik..., bakmi beneran!" kata saya berbisik agar tak terdengar oleh yang punya rumah.
 
Samar-samar, dari dalam terdengar suara orang-orang yang seperti sedang ramai berdiskusi. Tak terdengar sih apa yang mereka bicarakan. Kemudian, si bapak muncul lagi.
 
"Mmm..., maaf, jadi begini, kami nggak punya persediaan daging babi. Adanya dendeng rusa," si bapak menjelaskan.
 
Eh!? Saya dan teman saya bengong.
 
"Saya nggak makan babi, pak," teman saya berkata.
 
Saya mengangguk saja, meski kalau 'terpaksa' ya dimakan juga sih...
 
"Tapi, tadi kakak-kakak minta bakmi?"
 
"Iya, tapi maksudnya bukan pakai babi," jelas teman saya.
 
“Tapi, tadi bilangnya bakmi, jadi saya pikir mau yang babi”.
 
“Bukan, bakmi biasa saja, yang rebus.” kata saya masih rada bingung.
 
Si bapak sepertinya lalu menangkap bahwa ada kesalahpahaman dalam komunikasi antarkami. Sementara, saya dan teman saya masih lumayan berada dalam kondisi bengong state.
 
"Oh, mi rebus! Baik, sebentar ya," katanya lagi dan lalu kembali menghilang ke dalam.
 
Saya dan teman berpandang-pandangan dengan heran. Dari dalam terdengan lagi suara orang berdiskusi, dan kemudian si bapak muncul lagi. Wajahnya cerah penuh senyum.
 
"Sedang dimasakkan. Maaf ya, tadi saya sempat bingung,” jelasnya pada kami.
 
“Oh, nggak apa-apa,” saya merespon meski tetap tak paham kenapa beliau bingung.
 
“Soalnya, begini, kalau dalam bahasa Tionghoa, 'bak' artinya babi. Jadi, kalau 'bakmi' artinya mi babi," bapak menjelaskan.
 
Eh!?
 
"Oh ya? Wah, kami terbiasa menyebutnya bakmi. Tanpa tahu bahwa ada makna tertentunya. Bahkan mi ayam pun kami sebutnya bakmi ayam. Ternyata ya…,” saya berkata sambil tertawa kecil.
 
“Makaya saya tadi sampai bingung,” kata si bapak.
 
“Lalu, bagaimana dengan bakso dan bakpau, apa maksudnya begitu juga?" tanya saya.
 
"Tepat sekali!"
 
"Walah, baru tahu!" seru saya.
 
Kami tertawa-tawa bersama, dan lalu melanjutkan obrolan tentang hal lain dengan seru. Sampai pesanan kami muncul. Uwaaaah…, asapnya yang putih mengepul ke udara seperti asap kapal api, sungguh mengugah selera. Perut pun ikut bernyanyi. Bikin malu, tapi tak hirau.
 
"Silakan makan, saya tinggal ya," si bapak pamit.
 
Karena ini bukan warung, maka kami makan dengan duduk di sofa. Mejanya ya meja rendah set-nya sofa itu. Tak soal lah makannya harus membungkuk-bungkuk. Mungkin, karena sudah lama tak makan makanan ‘betulan’, kami menikmatinya dengan penuh kebahagiaan. Dan, sungguh, bakmi rebus tanpa babi itu dahsyat nian lezatnya!   =^.^=