BAHASA CINTA

Menyatukan perbedaan terkadang menjadi hal sulit dan kompleks manakala kedua makhluk merasa berada dijenjang yang berbeda. Perlu telinga yang tipis dan hati yang bersih untuk menangkap dalamnya sebuah makna. Seri #1 dari Trilogi.

BAHASA CINTA

Sore itu cuaca Jakarta sangat cerah dan waktu yang tepat berolah raga. Memang setiap hari Senin dan Rabu Sore Kami Bersama teman-teman kantor biasa bermain Tenis, sebagai wujud Olah raga serta diskusi informal. Maksum berpasangan dengan Mas Farid dan bertanding melawan pasangan abadi, Pak Joko dan Mas Irul. Pertandingan sangat seru, saling kejar mengejar angka, meskipun akhirnya dimenangkan oleh pasangan Pak Joko dan Mas Irul.

 

Saat istirahat tiba dan menunggu pasangan lainnya selesai, seperti biasa kami mengobrol dengan bahasan seputar pertandingan tadi disertai dengan ledekan ke Mas Farid yang terlalu banyak berbuat kesalahan. Aku melihat ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh maksum dan Ia menunggu momen yang tepat.

 

“Terima kasih Pak, berkat doa dan dukungan Bapak Saya dapat beasiswa S2 Magister Management” Kata Maksum ke Pak Joko.

“Wuaaaaah kokbisa! Kamu itu ga’ bakat jadi orang Marketing. Orang Marketing itu luwes, fleksibel dan dinamis” demikian balas pak Joko sebagai atasannya ketika Ia melaporkan khabar baik tersebut.

“Mana ada orang Marketing kaku kayak Kamu” lanjutnya menohok.

“Oooh gitu ya Pak. Mohon dianya ya Pak, mudah-mudahan Saya bisa berubah” jawab Maksum dengan kalemnya.

 

Maksum adalah Karyawan yang baru dua tahun bekerja di Jakarta. Sebelumnya Ia bekerja di Sumatera selama 6 tahun. Meskipun baru dua tahun bekerja di Jakarta, Sebenarnya, Ia termasuk karyawan yang pintar bergaul, kritis dan sangat cerdas.

 

Sebagai staf Relationship Management, Maksum adalah karyawan yang lincah dan disenangi oleh Kastamer. Tetapi ga tahu kenapa, Pak Joko sebagai GM kurang sreg dengan prilaku Maksum.

 

Menghadapi situasi seperti itu, Maksum justru terlihat tenang dan enggak baperan. Aku sangat menghargai dan salut dengan mental Maksum. Beberapa kali Maksum dipojokkan dalam rapat, baik karena urusan professional hingga ke personal, namun Ia tidak goyah, tetap tenang, tersenyum dan cenderung diam.

 

Yang Kami tahu tentang Maksum adalah Ia sangat kuat memegang prinsip kerja. Ia termasuk orang yang ga suka pendekatan bisnis pake entertain dan boleh dikata Maksum memilih jalur lurus dalam berbisnis.

 

Kami masih ingat ketika perusahaan berpotensi kerugian besar karena kesalahan dalam memperhitungkan biaya. Biaya yang Kami ajukan terlalu murah, Kastamer terlanjur setuju dan kontrak akan ditandatangani.

 

Pak Joko memerintahkan Maksum untuk mendekati Kastamer agar membatalkan projek tersebut atau bisa melakukan penawaran ulang. Untuk itu Maksum diminta untuk melakukan entertain ke Kastamer agar keinginan Pak Joko terpenuhi.

 

Maksum bergerak cepat menelusuri latarbelakang terjadinya kesalahan hitung tersebut, agar bisa mencari jalan keluar yang lebih elegan. Ia tidak tertarik untuk melobi Kastamer dengan pendekatan yang menurutnya kurang professional.

 

Mungkin dianggap lamban, dalam rapat rutin tiba-tiba Pak Joko mengungkapkan amarahnya dengan mengatakan bahwa Maksum tidak bisa bekerja baik, untuk itu mulai Minggu depan Ia dipindahkan ke kelompok widyaiswara. Maksum boleh meninggalkan ruang rapat!

 

Diperlakukan seperti itu, bukannya atasan Maksum membela. Beliau malah memperkeruh suasana dengan ikut menyalahkan lambannya proses, terlalu banyak perhitungan dan malas melakukan pendekatan.

 

Disaat Maksum beranjak meninggalkan ruang rapat, tiba-tiba Pak Sembiring sebagai Manejer Keuangan angkat tangan sambil meminta Maksum tetap duduk.

 

“Maaf Pak Joko” Kata pak Sembiring mencoba menginterupsi.

“Rasanya kurang fair kalo masalah ini menjadi tanggungjawab Pak Maksum”

“Proses analisa sampai kepada pembuatan proposal, tidak melibatkan pak Maksum”

“Tiba giliran masalah kok jadi tanggungjawab pak Maksum”. Komentar Pak Sembiring yang berusaha untuk menyadarkan semua peserta rapat.

 

Rapat hari itu langsung bubar setelah mendengarkan penjelasan rinci dari Pak Sembiring. Tidak ada keputusan tindakan apa yang akan diambil. Maksum kembali ke ruangannya dan sambil menunggu Bu Reni datang, Ia mencoba menyusun barang miliknya sebagai persiapan pindah ruang kerja.

 

Dalam diam Maksum menyesali dirinya yang tidak mau mengungkapkan solusi yang sudah Ia miliki. Ia sangat tidak suka melakukan entertain terhadap kastamer. Ia terus berandai- andai, kalaulah Pak Joko meminta pendapat apa jalan keluar mengatasi potensi kerugian ini, Ia sudah siapkan.

 

Tapi sayang hal itu tidak terjadi, karena Maksum merasa situasinya kurang memungkinkan dan Pak Joko juga tidak memberi kesempatan.

 

Dua hari setelah tragedi rapat berlalu, Maksum tetap melakukan kunjungan Kastamer, karena ada beberapa agenda yang akan disepakati. Maksum berencana akan menyajikan data tentang dinamika persaingan yang dihadapi oleh kastamer dan akan mendiskusikan beberapa opsi yang bisa diambil oleh Kastamer agar bisa memenangkan persaingan tersebut.

 

Suasana diskusi dengan Kastamer berjalan santai dan Maksum berhasil meyakinkan Mereka dengan penawaran beberapa opsi yang bisa diambil. Dari disepakati Opsi yang dipilih oleh Kastamer dan Lusa kontrak akan ditandatangani.

 

Dengan suasana bahagia, Maksum melaporkan hasil kesepakatan yang baru dicapai. Maksum menjelaskan bahwa profit yang akan didapatkan bisa menutupi kerugian yang dialami pada projek lainnya.

 

Demi menghormati atasan, Maksum menawarkan Bu Reni untuk menyampaikan berita baik itu ke Pak Joko. Ternyata Bu Reni kurang berani dan mempersilahkan Maksum saja yang menyampaikan langsung ke Pak Joko.

 

Sore hari Maksum mendapat kesempatan untuk menghadap Pak Joko. Ia menjelaskan kenapa membiarkan projek rugi itu tetap jalan agar kepercayaan kastamer tumbuh dinilai perusahaan yang memegang komitmen apapun resikonya.

 

Maksum menyampaikan argumen tersebut didukung oleh bukti bahwa projek berikutnya langsung diperoleh dengan Margin yang besar. Setelah selesai menyampaikan perkembangan projek tersebut, Pak Joko menanggapi dengan dingin tanpa sedikitpun melihat ke arah Maksum.

 

“OK, Saya sudah mengerti dengan penjelasanmu, Kalau seperti itu Anak kecil juga bisa!. Sudahlah masalah Saya anggap selesai dan Minggu depan silahkan menempati posisi baru sebagai Widyaiswara” Kata Pak Joko tanpa ekspresi.

“Siap Pak! Jawab Maksum dengan ekspresi yang tenang dan pamit keluar ruangan.

 

“Mungkin in yang terbaik” ungkap Maksum dalam hati.

 

WFH, 09-10-2020