ARSA

ARSA
Foto : Pinterest

 

 

Arsa. Seseorang yang padanya kutitipkan ketidakmungkinan yang selalu ku semogakan.

 

Tiga tahun sebelum kutuliskan surat ini dan tiga tahun setelahnya bahkan mungkin lebih, perasaanku akan tetap sama. Jika mungkin, aku ingin ia memiliki perasaan yang sama, meski aku sadar perasaan ini mungkin hanya angan-angan.

 

Arsa, sebenarnya perasaan ini rahasia. Butuh nyali lebih untuk mengatakannya langsung kepadamu, untuk itu kutulis surat ini. Sekadar menumpahkan rasa dan berharap timbunan mimpi yang kubangun tak menguap sia-sia. 

 

Arsa, sejak mengenalmu hari-hariku tak lagi sama. Pertemuan demi pertemuan adalah haru yang candu. Tatapmu itu semacam rindu, hatiku meremang girang. Di lengkung senyummu kuselipkan sayang, lembar demi lembar, dan berharap menjadi buku yang di dalamnya hanya ada kita. Maaf jika aku menyimpan sayang. Tak mampu kucegah. Ah aku memang payah. Perasaan ini membawaku pada seruang terang penuh kau di dalamnya. 

 

Arsa, boleh ya kutuliskan ini. Semacam puisi, tapi mungkin bukan, entahlah. Aku hanya ingin menulis untukmu...

 

 

Aku menemukanmu dalam puisi, setelah kepergian berulang-ulang dalam putaran siang dan malam yang diterjemahkan kesedihan.

Aku menemukanmu dalam lalu lalang orang-orang di jalanan kesepian.

Aku menemukanmu di kedai-kedai kopi, di antara aroma kopi dan asap rokok yang melebur dalam perayaan-perayaan kehilangan.

Aku menemukanmu dalam televisi yang mengabarkan berita-berita politik yang membosankan.

Aku menemukanmu dalam percakapan panjang denganNya.

Percakapan yang laut. Aku larut.

Aku menemukanmu di dalam aku.

 

 

Arsa. Seseorang yang padanya kutitipkan ketidakmungkinan yang selalu ku semogakan. Berjanjilah untuk bahagia, meski tak ada aku di sana.