ANJAY!

Penurunan Makna Kata

ANJAY!

PENURUNAN MAKNA KATA

Sebenarnya, kita sendiri yang menurunkan makna dari kata. Sebab apa? Karena penggunaan yang salah, atau mengubahnya jadi makian.

Dulu, kita bilang Cina biasa aja. Lalu diganti Tiongkoklah, Tionghoalah, demi warga keturunan tidak tersinggung. Padahal bilang dia Cina biasa aja. Kecuali, "Cina!" Beda intonasi, beda penekanan, beda penempatan, beda tujuan, jadi turun maknanya.

Dulu, kata Lokal itu berarti produk Indonesia. Kita suka nanya, "Produk mana tuh?" Dia jawab, "Produk luar." Oh, artinya dari luar negeri. Kalau dia jawab, "Produk lokal," artinya produk dalam negeri. Sekarang kalau kita bilang lokal, persepsinya produk daerah dengan cakupan lebih sempit. Sehingga ada yang sarankan diganti aja jadi produk nasional, atau produk Indonesia. Yang bikin persepsi sebuah kata jadi turun kan manusia-manusia juga. Kenapa jadi repot lagi harus ganti-ganti kata?

Dulu, kata Anjing juga biasa aja. Karena memang ditujukan untuk binatang. Lalu, kata Anjing disalahgunakan oleh orang tertentu menjadi makian. Akhirnya sekarang malah jadi Anjay. Di Sunda, jarang yang bilang Anjing. Karena sudah disamarkan (efek lidah Sunda juga) berubah jadi Anying, Aning, Anjir, Anyiw, atau bahkan Aeh. Saking lekohnya. Sekarang kita mau bilang anjing ke anjing aja jadi doggy, atau guk-guk. 

Lucu.