ANDA dan SAYA ADALAH PEMULUNG

ANDA dan SAYA ADALAH PEMULUNG

Kami memanggilnya Pak Dukut. Nama lengkapnya Dukut Imam Widodo, penulis buku sejarah Surabaya Tempo Doeloe. Ketika bertemu pertama kali, kesannya orangnya ramah, ceplas-ceplos, dan begitu menikmati dunianya. Pun ketika bertandang kerumah yang difungsikan sebagai ruang kerja dan ruang koleksinya itu, interiornya yang terbuka dengan nuansa alami yang nyaman dan asri. Selaras dengan pribadi penghuninya.

Meskipun banyak menulis buku tentang sejarah jawa timur, tapi Pak Dukut menolak untuk disebut sejarawan.  Beliau menganggap bahwa buku yang dihasilkan itu, adalah sekadar buku guyonan, sekadar buku iseng, padahal buku itu menjadi bahan referensi dan seringkali untuk koleksi.

“Saya hanya seorang pemulung sejarah, bukan sejarawan. Saya hanya memulung serpihan sejarah”, katanya dihadapan mahasiswa ketika menjadi Dosen tamu di Nagoya – Jepang.

Menilik karya Dukut Imam Widodo, seperti melihat kembali kisah lama kota-kota di Jawa Timur. Lengkap dengan foto-foto tempo dulunya.

“Foto-foto itu  saya peroleh dengan tidak mudah, lho, Pak” katanya sambil menunjukan salah satu foto yang ada dibukunya.

“Beberapa foto, sengaja saya beli di Belanda. Saya banyak merujuk referensi ke Belanda.  Konon katanya Belanda adalah Negara yang memiliki data lengkap tentang Indonesia” tambahnya.

Effort yang besar, untuk demi menghidupi sebuah passion. Perjuangan literasi yang panjang dan butuh kesabaran tentunya. Begitulah, ketika passion yang sedang berkarya, seringkali si empunya tidak merasa sedang bekerja. Merasa sedang  bermain.

Melihat Pak Dukut yang begitu telaten,  Saya  bergumam: “Bukankah antara bekerja dan bermain itu, energy yang dikeluarkan sama? Lantas mengapa dalam bermain, kita tidak merasa  capek ? Malah seringkali energi yang kita keluarkan seperti nggak habis-habis? Ah….pantas Ia suka mengistilahkan bermain daripada bekerja…”

Pemulung adalah orang yang memungut barang-barang bekas atau sampah yang sudah dibuang atau tidak terpakai. Ada beberapa  untuk dilakukan proses daur ulang. Pekerjaan pemulung sering dianggap memiliki makna peyoratif. Berpakaian dekil, membawa karung plastik dan membawa seperti celurit dari besi. Celurit sebagai senjata andalan. Sebagai alat mengungkit tumpukan-tumpukan  sampah, untuk mencari kalau-kalau ada sesuatu yang dianggap bernilai.

Meskipun terkesan negatif, banyak orang kaya yang lahir dari pekerjaan memulung ini. Beberapa orang Madura khususnya, secara serius menekuni bisnis ini, bisnis memulung. Pernah saya melihat, barang-barang hasil memulung dikumpulkan di  halaman rumah. Bahkan kalau sudah tidak muat,  mereka akan menyewa lahan yang lebih luas lagi.  Sepintas terkesan kotor dan kumuh tapi omzetnya mampu menembus ratusan juta.

Dari bahan memulung itu, mereka memiloih dan memilah berdasarkan jenis bahan. Mereka kelompokan sendiri-sendiri. Bahan plastik , logam, kertas semua ada tempatnya sendiri-sendiri. “Biar enak mencarinya dan biar gampang menjualny” begitu kira-kira yang ada dibenaknya. Barang-barang itu beberapa dijual secara kiloan, ada juga yang dirangkai atau diperbaiki  sendiri menjadi barang tepat guna dan dijual lagi.

Dengan hanya dibersihkan atau ditambah sedikit kreatifitas, barang rongsokan atau komponen itu diolah menjadi barang daur ulang. Beberapa dijual sebagai spare part “kanibalan” di pasar Klithikan. Kalau sudah begini barang rongsokan  itu akan akan naik kelas,  jika dibandingkan dijual sebagai barang kiloan. Kata kuncinya, para pemulung harus pintar “menjahit”.  Memadu-padankan bahan yang terbuang ini, menjadi sesuatu yang bermafaat. Craftmanship mutlak diperlukan bila pingin barangnya bernilai lebih tinggi.

“Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi. Tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari “ begitu kalimat yang pernah saya dengar. Memang benar, tidak ada sesuatu yang benar-benar baru di muka bumi ini, mereka saling mengimitasi, saling mempengaruhi. Mereka saling memulung.

Malah ada diajarkan dalam bisnis tentang cara mudah berinovasi, yakni dengan rumus ATM : Amati, Tiru dan Modifikasi. Dalam bahasa pasar, modifikasi itu dimirip-artikan dengan inovasi. Hanya sekadar pengembangan manfaat,  atau perbaikan dan penambahan nilai produk saja. Memang sulit untuk menemukan sesuatu yang benar-benar baru di atas bumi ini. Kebaruan itu sangat subjective, tergantung pandangan siapa yang melihat. Jika sesuatu  itu dianggap baru, maka itu adalah sebuah inovasi bagi yang melihatnya. Konsep baru dalam sebuah ide,  tidak selalu benar-benar baru.

Dalam kehidupan sampai hari ini, Sayapun bertumbuh dan berkembang dari hasil memulung. Saya memulung nilai dan prinsip kehidupan kedua orang tua kita. Saya belajar memulung sikap dan perangainya. Hasil memulung dari pendidikan sekolah, Saya mendapatkan pola pikir. Memulung dari lingkungan, Saya belajar tepa slira. Bahkan di WA group the writer pun saya masih memulung....:). Dan banyak sekali hasil memulung lainnya, yang tanpa sadar sudah kita peroleh. Bahkan sebagian sudah kita jahit kembali, dan kita kenakan sebagai baju identitas diri.

Jadi teringat seorang teman, ketika saya pernah ajukan pertayaan : “Kamu kok bisa pandai sih?.”  “Karena, saya mempunyai banyak pembisik dalam benak…” Jawabnya.

“Pembisik-pembisik ini sebetulnya hasil memulung dari buku-buku yang saya baca. Dari obrolan teman yang digroup WA. Dari radio yang kebetulan saya dengar. Dari film yang saya tonton. Lantas hasil dari memulung itu kemudian saya saya jahit. Saya bentuk menjadi pakaian. Terkadang hasil memulung itu sekadar saya ceritakan kembali. Terkadang sudah berbaur dengan pengalaman hidup saya” terangnya dengan panjang lebar.

Benar, bahwa kita adalah pemulung dan saling memulung dalam kehidupan. Memulung kebaikkan, memulung kebajikan, memulung ilmu bahkan memulung ide. Dari hasil memulung itu, keterampilan kita diuji. Apakah kita sudah cukup terampil mengolahnya, hingga menjadi sebuah karya bermanfaat untuk diri dan sekitarnya atau hanya diam dan membiarkan menjadi sampah yang menebar aroma  tak sedap disekelilingnya.

Semangat memulung  kehidupan…