Anak Saya Ngojek Online

Anak Saya Ngojek Online

Siapa yang nggak sedih, saat semua orang WFH (Work from Home) alias kerja di rumah untuk memproteksi diri dari serangan virus Covid-19, orang yang kita cintai malah harus berada di luar. Kerja layaknya biasa. Apalagi orang yang kita cintai ini adalah anak sendiri. Jelas, rasa kuatirnya melebihi dari rasa kuatir kalo ada apa-apa sama diri sendiri.

Ya, anak saya yang baru berusia 22 tahun ini, 24 jam dalam sehari, hampir 7 hari dalam seminggu, ada terus di luar rumah. Artinya, bahkan pulang pun belum tentu seminggu sekali.

Kalo pun pulang, dia cuma sekadar setor muka di hari Minggu. Meluk adik-adiknya, tidur bentar, terus pergi lagi.

Sesuatu yang sangat bahagia bagi saya kalo sesekali dia bisa ada di rumah semalaman atau seharian. Dan sesuatu yang bikin tambah sedih lagi bagi saya kalo baru aja dia menginjakkan kakinya di rumah eh panggilan datang.

Sekitar 1 bulan lalu, dia tiba-tiba saja minta tukeran motor dengan motor yang biasa saya pake. Motor dia Kawasaki W175 Cafe. Motor yang saya biasa pake Honda Beat lama.

Saya bingung, kok mau-maunya anak saya tukeran motor dengan yang lebih tua. "Buat ngojek online, Pah, " katanya cuwek, kayak asal jeplak. 

Saya nggak ambil pusing. Saya selalu membiarkan apapun yang anak saya lakukan. Sejak kecil, saya paling percaya sama anak saya yang satu ini. Apapun yang dia lakukan sangat penuh perhitungan dan pertimbangan.

Sewaktu kecil, umur 3 tahun, untuk jalan melewati satu area berbahaya saja dia benar-benar memperhitungkannya dengan sangat matang. Kalo ke sini risikonya begini, kalo ke sana kemungkinannya begitu.

Jadi, kalo sekarang dia punya rencana agak aneh, ya saya tenang-tenang saja.

Sampai, rasa kuatir ini tiba-tiba menjadi amat berlebihan saat pandemi virus Covid-19 membuat pemerintah menganjurkan kita #DiRumahAja, eh anak saya masih harus tetep kerja.

"Kok nggak istirahat dulu, A, sampe waktu yang ditentuin pemerintah. Teman-teman Aa off juga, kan?"

"Iya, tapi team Aa tetep mesti kerja."

"Lah, perintah #DiRumahAja itu kewajiban yang harus kita taati."

"Ini juga kewajiban yang mesti dipatuhi, Pah."

Aneh. Tapi, ya sudahlah. Saya hanya bisa berdoa semoga Tuhan melindungi dia.

Sampai, suatu ketika (minggu lalu), saya mendengar berita, Indonesia menggagalkan pengiriman 300 ribu Alat Pelindung Diri (APD) yang akan dikirim ke Korea Selatan. Team gabungan Indonesia sigap menahan dan mengamankannya, karena alat-alat itu justru sedang sangat diperlukan oleh tenaga medis Indonesia dalam melawan pandemi virus Covid-19.

Anak saya, si "Ojek Online" ini, ternyata adalah team inti yang turut mendeteksi dan melakukan penahanan atas barang-barang yang sedang amat dibutuhkan negara kita ini.

Saya sangat amat terharu mendengarnya.

Untuk negeri ini, saya insya Allah mengikhlaskan tekad anak saya dengan segala risikonya.

Saya mengizinkan anak yang beberapa belas tahun lalu masih pup sambil nangis kejer di sebuah toilet bis jurusan Jakarta-Bandung ini, untuk menjadi "alat" yang siap mengamankan aset negara, sekaligus melindungi warganya.

Saya sangat bangga, Si Tukang Ojek Online yang kalo di rumah rambut gondrongnya selalu dikucir di bagian atas ini, memiliki sumbangsih walau tidak untuk diketahui siapa dia oleh siapapun juga. 

Semoga, Allah mengebalkanmu dari bahaya Covid-19, dan kamu tetap semangat menjadi garda terdepan negeri ini, untuk setiap usaha apapun yang menjadi tugas baik di pundakmu.

Selalu sehat dan gembira, ya Nak, dengan pekerjaanmu.