AMBYAR..

AMBYAR..
Pic taken from www.Solopos.com

SEDIH

Pagi-pagi jam 9-an buka salah satu grup WhatsApp dapet kabar Didi Kempot meninggal dunia jam 7.45 pagi tadi. Dan gue langsung berasa ambyar. Gue sendiri baru akrab sama lagu-lagunya Didi Kempot beberapa bulan belakangan ini. Itupun gara-gara suami gue yang kasi tau gue bahwa Didi Kempot naik lagi popularitasnya karena viral di kalangan generasi milenial dan generasi Z. Awalnya gue cuma heran aja, “Kok bisa ya? Lagu bahasa Jawa bisa juga jadi trend ya..” 

Sebelumnya gue cuma tau lagu Stasiun Balapan aja dari Didi Kempot. Dulu waktu kecil gue suka bantuin jaga toko nenek gue, dan karena kebanyakan karyawan toko itu asalnya dari Jawa Tengah, mereka sering nyanyi-nyanyi lagu campursari. Salah satunya yang paling sering ya Stasiun Balapan itu. Kalo lo udah pernah nonton Cek Toko Sebelah, nah suasana toko persis tuh emang kaya gitu. Kalo toko lagi sepi ada aja yang nyanyi, “Ning setasiun balapan.. Kuto Solo sing dadi kenangan.. Kowe karo aku..” Gue gak terlalu ngerti bahasa Jawa, jadi yang ketangkep di kuping gue cuma baris itu lagi, baris itu lagi.

Sejak lebih familiar sama lagu-lagunya Didi Kempot belakangan ini, gue emang suka puter lagunya di mobil.Nyanyi-nyanyi bareng Ary. Lucu aja. Lagu patah hati, liriknya jujur dan dalem rasanya menurut gue, tapi bisa bikin kita nyanyi-nyanyi sambil ketawa-ketawa. Sedih, perih, tapi kok bisa dibawa asik. Gue gak menyangkal julukan The Godfather of Broken Heart itu emang cocok banget. 

Gue rasa sebagian besar orang (atau bahkan mungkin setiap orang?) pernah mengalami yang namanya sakit karena patah hati, tapi gak banyak yang bisa mengungkapkan rasa sakit itu jadi kata-kata ekspresi yang jujur. Sebagian mungkin merasa malu dan berusaha baik-baik aja, sebagian lagi mungkin tenggelam dengan rasa sakit yang rasanya cuma dia yang bisa rasakan sakitnya. Dan gue bisa kebayang perasaan suram dan kelabu yang membayangi di saat kita patah hati. 

Rasa itu terus memenuhi ruang hati dan pikiran kita. Gak enak banget. Semakin kita berusaha menghapusnya, semakin rasa itu pekat dan melekat. Maka, gue pelan-pelan akhirnya belajar bahwa bisa menerima rasa, itu adalah kesembuhan pertama. Bisa mengungkap rasa, itu kesembuhan kedua. Kemudian menemukan pengetahuan yang memberi kita sudut pandang baru tentang rasa sakit tersebut, itu kesembuhan ketiga. Dan waktu yang akan menyempurnakan penyembuhan itu akhirnya dengan datangnya berbagai kemungkinan ke dalam hidup kita. Sampai akhirnya kita bisa mengingat luka itu dengan rasa netral yang tidak lagi menyayat. 

Gue pribadi memaknai alasan lagu-lagu Didi Kempot (dan Glenn Fredly yang juga baru aja pergi) begitu mendapat tempat di hati banyak orang adalah karena lagu-lagu mereka hadir membawa kesembuhan yang pertama dan kedua bagi banyak orang yang patah hati. 

Kejujuran dan keberanian mereka menuangkan rasa dalam lagu-lagu patah hati mereka mewakili banyak orang yang juga sedang berusaha menerima bahwa kejadian itu terjadi pada mereka, rasa sakit itu ada dan memang betul sakit. Ditambah pilihan-pilihan kata yang sangat mampu mengekspresikan rasa sakit ke dalam lagu yang mereka bawakan, ini yang membantu orang untuk bisa menuangkan rasa sakit mereka ke luar dari hati lewat kata-kata yang sangat mewakili rasa yang tak terkatakan. Rasa yang bikin orang bilang, “gue banget ini..” walau sebelumnya tersimpan jauh di dalam hati.

Gak mudah untuk berani mengakui, gak mudah untuk bisa mengungkapkan. Karena gak mudah itulah, orang-orang yang berani dan bisa mengekspresikan rasa, akhirnya akan diapresiasi banyak orang. Karena mereka telah mewakili rasa yang tak terungkapkan. Membawa kesembuhan dengan caranya sendiri. 

Bertahun-tahun kemudian, kita mungkin mendengar ulang lagu-lagu mereka dan bisa bilang, “Gila, ini lagu yang nemenin gue waktu lagi sakit-sakitnya patah hati nih,” sambil cengar-cengir dengan entengnya. 

Gak heran, banyak air mata mengalir untuk kepergian Didi Kempot dan Glenn Fredly. Karena entah berapa banyak air mata yang akhirnya berhenti mengalir karena kekuatan dan kesembuhan yang mereka beri dari karya-karya mereka yang jujur dan dalam. 

Terima kasih Didi Kempot & Glenn Fredly..
Selamat jalan..