Alien di Negeri Sendiri

Alien di Negeri Sendiri

Di bawah teriknya matahari khatulistiwa pada bulan Ramadhan 2019 lalu, saya dan rekan-rekan menyusuri Danau Benawak dengan menggunakan speed. Sepanjang penulusuran danau yang merupakan bagian dari ratusan gugus dan cabang Danau Sentarum tersebut, banyak ditemui jala-jala dan tambak ikan tradisional milik warga.

Saya amati di sepanjang daratannya, banyak pohon tinggi dengan akar-akar yang menjuntai. Tampak di pohon tersebut seperti tanda bekas banjir.

“Di sini kalau lagi naik airnya, memang bisa sampai di atas pohon itu, bu” kata Pak RT yang ikut satu speed dengan saya menjelaskan tinggi air apabila sedang musim penghujan.

Sifat Danau Sentarum yang terletak di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat tersebut memang pasang surut. Jika sedang pasang akibat curah hujan tinggi, akan terbentuk danau yang luas dan dalam. Namun jika sedang kemarau, danau akan surut dan membentuk anak sungai, danau kecil dan bahkan akan muncul pulau-pulau kecil. Biasanya setelah surut pasca banjir, di parit-parit perkebunan akan tertinggal banyak ikan yang akan dipanen oleh warga. Kadang bisa sampai satu karung besar ikan gabus yang didapat. Oleh warga setempat, ikan-ikan akan diasap supaya bisa dikonsumsi sampai berbulan-bulan ke depan.

Sebelum menaiki speed tadi, saya diminta untuk berhati-hati dalam berbicara dan bertindak selama perjalanan ini. Konon katanya Danau Benawak ini angker, seringkali warganya tersesat mengelilingi danau dan atau mendengar suara-suara aneh ketika sedang berburu ataupun berladang di areal sekitar.

Setiba di dermaga pinggir hutan, kulihat sudah banyak orang berkumpul dengan kepulan asap yang pekat. Seketika bau anyir amis menyeruap menusuk hidung. Takut dikata tak sopan, kubuat mukaku datar seakan itu adalah biasa.

Berjalan lebih ke dalam lagi, banyak ceceran darah yang ternyata dari babi-babi yang baru saja dipotong dan akan disantap bersama untuk upacara Puja Tanah. 

Upacara Puja Tanah merupakan ritual dalam membuka lahan untuk ditanam, di mana para Tetua adat Dayak setempat membacakan do’a dan mantra bagi para penghuni lain dan arwah nenek moyang hutan tersebut.

Seseorang menyodorkan gelasnya kepadaku namun agak ragu setelah mengamati jilbabku, “Nuan sedang puasa kah?”

“Iya maaf saya sedang puasa, jadi tidak bisa minum” jawabku.

“Melepus ya”, katanya sambil tersenyum.

Saya pun memegang gelas tersebut. Melepus adalah memegang gelas atau piring ketika kita tidak dapat minum atau makan dari apa yang mereka tawarkan. Salah satu sopan santun dalam Dayak Iban.

Mereka lalu menawarkan gelas-gelas berisi arak nira tersebut ke tamu lainnya yang disambut dengan suka cita.

Orang lain melihat saya tidak minum, menawarkan kembali gelas lainnya yang berisi kopi. Sebagai pecinta kopi, saya sudah sangat tergiur dengan wanginya. Namun karena berpuasa, saya kembali hanya “melepus” saja.

Udara siang itu begitu terik, pantulan awan di air gambut yang hitam seakan menarik saya untuk terjun ke dalamnya. Kulihat seorang anak membawa teko ke pinggir dermaga. Diisinya teko tersebut dan dibawa ke tempat memasak. Ternyata air minum yang disediakan, baik untuk langsung diminum maupun untuk teh dan kopi itu berasal dari air gambut itu. Sementara itu beberapa ibu-ibu terus mengaduk kuali-kuali yang berisi masakan babi.

Saking panasnya udara di siang itu dan pengaruh alkohol, semua laki-laki tampak bertelanjang dada. Tua muda semuanya telanjang!

Kombinasi alkohol dan udara terik membuat para laki-laki (tua dan muda) membuka bajunya bertelanjang dada. Ada yang asik mengobrol, ada yang nyebur ke danau dan bermain perahu kayuh, ada yang sibuk dengan banyaknya makanan yang harus tersaji, ada juga di pojokan lainnya  tertidur pulas di ranjang dengan ceceran tuak dan bekas daging di bawahnya. Seperti tidak dipedulikan, tidurnya begitu pulas. Ngorok pula. Sementara itu para tetua merapal mantra di bawah pohon rindang yang usianya entah sudah ke berapa.

Hutan tua itu seperti dimensi yang berbeda, kata Pak Sekretaris Desa “Dunia ini bukan hanya milik dan ditinggali kita, tapi juga mereka yang di dunia seberang. Kita bersama-sama bisa saling jaga dengan saling hormat. Hutan itu rumah kita bersama”.

Mendengarnya berbicara seperti itu di tepian hutan, serta angin sepoi-sepoi yang menerpa kulit dan mengibas jilbab, bulu kuduk saya merinding.

Walau ini masih di Indonesia, hanya beda pulau dari tempat saya lahir dan dibesarkan, saya merasa menjadi alien. Alien di negeri sendiri. Alien yang harus beradaptasi lagi di habitat barunya.

Tapi mungkin ini juga yang dirasakan oleh teman-teman dari daerah lain ketika ke Jakarta. Semua akan merasa menjadi alien di tempat yang bukan habitatnya.

Keramahan mereka membuat perasaan alien saya jadi sedikit memudar.

Merangkul saya masuk ke dalam ramah tamah dunia mereka.

Lambat laun saya merasa, kita tidak lagi beda. Padahal memang sejak awal kita sama.