Alat Terlama Pendeteksi Masalah

Alat terlama untuk mendeteksi masalah telah dijual sejak dulu, namun tak semua kita bisa menggunakannya dengan tepat atau sama sekali tak membelinya. Positif dan negatif pun menjadi tumpuan ketika merasa masalah itu hadir. Sejak dulu kala selalu ada alat untuk mendeteksi masalah lebih dalam, bahkan alat itu bisa membersihkan masalah jika digunakan dengan tepat, namun alat itu juga bisa menjadi sumber masalah bahkan memperburuk masalah. Apakah kamu orang yang bertumpu pada kepostifan atau kenegativan dalam menghadapi sampah masalah?, disini penulis menguraikan jawaban untuk pada positif dan negatif atau bisa konvensional (dari positif ke negatif). #AlatPendeteksiMasalah #penyelesaianmasalah #sumbermasalah #sosial

Alat Terlama Pendeteksi Masalah

Alat Terlama Pendeteksi Masalah 

 
Selalu ada alat yang paling utama untuk menangkal kesalahpahaman dan kesalahpengertian dalam sebuah masalah. Alat itu bisa dilihat dan dirasakan manfaatnya, namun tak dapat disentuh. Tak semua orang dapat membelinya, dikarenakan berbagai alasan dari yang bual sampai yang masuk akal. Padahal alat itu tidaklah mahal. Lalu mengapa tidak semua orang bisa membelinya?, karena perantara membelinya melalui orang – orang yang bermacam – macam. Dari yang pelit menjual alat tersebut, yang setengah jujur atau sama sekali tidak jujur dan jenis – jenis lainnya. Alat itu tak salah lagi, namanya ialah komunikasi. Itulah alat yang paling utama untuk menghubungkan seseorang dengan orang banyak, tak hanya dengan orang – orang, tetapi juga alat untuk terhubung dengan Pencipta alam semesta. Selain alat tersebut merupakan alat pembersih masalah,  tetapi bisa juga alat  memperburuk masalah atau bisa juga bagian dari sumber masalah.   
    Ketika suatu permasalahan diceritakan pada satu orang atau lebih dan lalu orang yang menjadi pendengarnya bisa pro atau kontra dengan penceritanya. Disini, dan pencerita masalah adalah subjeknya si komunikasi, sedangkan komunikasi sendiri adalah objeknya si pendengar atau objeknya si pencerita. Dan komunikasi itu akan berfungsi dengan baik apabila pemakai menggunakannya dengan tepat. Tetapi akan menimbulkan masalah, apabila pemakai menggunakannya dengan cara yang tidak tepat.  
    Jadi, orang – orang yang sudah berkomunikasi pun terkadang masih bisa menimbulkan sampah – sampah masalah, apalagi orang yang sama sekali tidak berkomunikasi. Contoh orang – orang yang tidak membeli alat tersebut seperti yang diceritakan di paragraph selanjutnya (agar tidak bingung memahaminya).
Misalnya, ketika seseorang merasa orang – orang sekitarnya, baik itu di tempat kerja, rumah, lingkungan atau tempat prakerin, organisasi atau komunitas, seperti dia merasa orang – orang tersebut bertingkah aneh terhadapnya. Misalnya orang tersebut merasa beberapa orang cuek atau tiba – tiba bersikap tak perduli padanya, tiba – tiba seperti menyinder atau menepikannya, menuduh secara tidak langsung dan lain – lain sebagainya. Kemungkinan ada dua, bisa jadi benar atau bisa jadi salah perkiraan orang itu. Sebab – sebabnya banyak, mungkin tidak semua orang menyukainya, tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama dan tidak semua orang merasa bisa nyaman dengannya meskipun dia baik atau mungkin orang – orang itu membenci kesalahannya yang keakuratan benarnya mungkn kecil atau besar. Dan sebab – sebab tersebut mungkin memiliki alasan tersendiri yang tidak perlu dijelaskan karena jika penulis menguraikannya, maka kemungkinan akan lebih panjang teksnya. Bisa juga sebab – sebab tersebut tidak memiliki alasan sama sekali. Lalu, ketika dia merasa demikian dan dia tidak membeli alat tersebut dengan menanyakan apa yang dirasakannya terhadap mereka, maka dua kemungkinan yang terjadi, akan menghasilkan yang positif atau negativ. 
Positifnya, orang itu tidak mengambil pusing dan membawa dirinya untuk tetap santai. Negatifnya, orang tersebut bisa kembali melakukan hal yang sama sebagaimana orang – orang itu memperlakukannya sesuai apa yang dia rasakan atau pikirkan. Jadi saat dirinya merasa diacuhkan, maka dia pun akan bertindak yang sama atau berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan.  
 
    Bertumpu pada positifnya. Orang yang bertumpu pada kepositifan, apapun yang dirasakan bagaimana tindakan aneh orang – orang terhadapnya, maka dia tidak mengambil pusing. Baik apa yang dirasakannya itu benar atau tidaknya, dia akan membawa santai dan seolah menganggap tidak ada masalah. Dan bagaimana sikap orang – orang tersebut jika si objek berpikiran positif?. Mungkin bisa semakin ingin menyadari dia dengan bersikap yang macam – macam agar yang berpikir positif cepat sadar atau mungkin bisa istilahnya seperti ini : ‘orang itu tidak sadar – sadar ya diperlakukan seperti ini’. Kemudian, si dia yang bertumpu pada kepositifan terus berlaku biasa saja walaupun semakin diperlakukan dengan yang lebih tidak menyenangkan. Baik itu sinderan, tindakan acuh atau lain – lainnya, supaya si dia lebih sadar atau semakin tidak menyukai si dia, maka dua kemungkinan lagi, orang – orang itu akan merasa empati padanya atau tak sama sekali. Dan ketika mereka semakin bersikap aneh, disinilah yang menjadi apakah yang diperlakukan tahan mental sebagaimana awalnya dia masih berpikiran positif atau dia malah hilang kesabaran dan meluapkan ketidaksabaran pada orang – orang itu. Jika demikian terjadi, maka orang itu seperti arus konvensional (dari positif ke negativ). Sedangkan jika seandainya apa yang dirasakannya itu tidak benar dan kebetulan dia memang bertumpu pada kepositifan, maka kemungkinannya dia tidak mendapatkan tambahan masalah.   
    Sedangkan jika bertumpu pada negatifnya, maka tentu orang yang merasa tersebut akan mendapatkan masalah karena dia membalas perlakuan tidak menyenangkan kepada orang – orang yang dia rasa sedang tidak memperlakukannya dengan baik. Sebab jika perlakuan orang – orang itu benar sesuai dengan yang dia rasa atau pikirkan dan dia membalasnya dengan yang sama seperti yang dia rasakan, maka dia akan mendapatkan masalah. Namun jika hal yang dipikirkan atau dirasakannya ternyata tidak benar , maka tentu dia akan mendapat masalah karena orang – orang itu berpikir bahwa si dia yang merasa, sedang tidak waras atau merasa moodnya sedang tidak baik. 
    Nah disitulah sulitnya saat alat tersebut tidak dibeli. Orang – orang merasa cukup dengan bersikap aneh untuk meluapkan kekesalannya pada orang yang dikesalkannya dengan cara menyinder, bersikap cuek atau marah namun berlagak tidak marah dan sikap – sikap lainnya. Bertingkah seperti itu, seolah – olah telah merasa cukup tanpa harus diperbicarakan langsung terhadap seseorang yang kita vonis salah. Sedangkan orang tersebut mungkin tak menyadari kesalahannya. Seandainya ternyata, kelirulah penilaian kita kepada seseorang yang divonis salah, karena kenyataannya hanya kesalahpahaman yang terjadi setelah diketahui belakangan atau setelah dicari tahu lebih dalam, maka sungguhlah mungkin kita telah berbuat fitnah atau zalim terhadap orang tersebut. Sebab, saat kita tidak sendiri mengetahuinya karena mungkin kita menyebarkan ke orang – orang sekitar, lalu mereka yang kita beri tahu ikut bersikap sebagaimana kita bersikap acuh atau tidak menyenangkan terhadap dia yang kita vonis salah, maka tentulahta kita termasuk orang – orang yang telah menciptakan kezaliman atau pembulian tanpa disadari, sebab kita merasa benar berpendapat atau menilai lalu bersikap aneh atau orang terdekat kita ikut handil dalam hal ini tanpa kita ketahui ataupun tidak.
    Komunikasi – alat yang tak selalu menghasilkan produk yang baik. Dia juga bisa menjadi bagian dari masalah itu sendiri karena dunia kita tidak selalu dipenuhi orang – orang jujur, pengertian dan yang berhati tidak sombong. Tak hanya itu, perbedaan budaya, daerah atau perbedaan apa saja pun terkadang bisa membuat komunikasi menghasilkan produk yang tidak baik. Tetapi jika kita memahami bagaimana menggunakan komunikasi secara tepat, sesuai dengan tempatnya, maka komunikasi menjadi puncak alat utama pembersih masalah. 
Menurut saya, jika komunikasi demikian bisa menghasilkan yang baik atau yang tidak baik, maka tetaplah menjunjung komunikasi sebagai alat utama pembersih masalah, setidaknya dengan komunikasi dapat mengetahui untuk lebih bisa menelusuri suatu hal yang jangkal. Jadi ketika kamu rasa ada hal yang kamu tidak percayai, atau hal yang jangkal atau hal yang tidak mungkin itu terjadi dan apapun yang membuat kamu bertanya – tanya, komunikasi tetaplah yang utama digunakan. Dan bertanya menjadi bagian dari komunikasi untuk dapat mengetahuinya. Bertanyalah pada orang –orang yang kamu rasa perlu untuk ditanyakan, apalagi jika itu adalah orang terdekatmu, maka tidak perlu segan untuk bertanya kepada mereka. Bertanya supaya terhindar dari kesalahpahaman dan kesesatan yang dapat membuat masalah dan yang ditanya juga harus menghormati si penanya. Jadi, orang yang ditanya haruslah menjawab sebaik dan sejujur yang tepat agar si orang yang bertanya bisa menyelesaikan apa yang membuat dirinya bertanya – tanya terhadap suatu hal atau bisa menyelesaikan masalahnya. Sebab dia yang bertanya memiliki tujuan agar tidak terjadi kesalahpahaman atau keniatan dapat menyelesaikan masalah segera mungkin. Bisa juga ketika masalah telah semakin besar, maka perlunya dikumpulkan orang – orang yang terkait dengan masalah tersebut dan harus ada orang – orang penengah (yang tidak pro dan kontra terhadap orang – orang yang terkait dengan masalah). Maksudnya si penengah tidak membela siapapun, dia menjadi penengah untuk membantu orang – orang tersebut keluar dari suatu masalah. Sehingga kita tahu, semua orang – orang yang dikumpulkan itu membeli alat tersebut untuk menyelesaikan masalah mereka. Bagaimanapun alat pembersih masalah itu, bisa menghasilkan yang baik atau tidak, nyatanya kita tetap bergantung pada alat tersebut. Maka kita sendirilah yang dapat mengendalikan alat itu untuk menghasilkan produk yang baik atau buruk.