AKU KANGEN PADA RINDU

AKU KANGEN PADA RINDU
HP Si Pembunuh Rindu

Di jaman belom ada handphone, saya selalu merana setiap kali berpisah dengan pacar saya. Misalnya ketika dia pergi ke Amerika untuk sekolah. Perasaan saya begitu tersiksa oleh rindu.

Setiap hari saya memeriksa kotak pos, berharap ada surat atau kartu pos yang dikirimkannya. Perbedaan waktu 12 jam membuat rindu semakin mencekam. Setiap weker menunjukkan pukul 12 malam, saya gak bisa tidur karena didera rasa rindu yang teramat sangat. Wah, di sana lagi jam 12 siang. Pasti lagi seru-serunya dia bercengkerama dengan teman-teman sekolahnya. Dengan perasaan gundah gulana saya bergumam, “Sayangku, sedang apa kamu di sana? I miss you so much!”

Ketika pacar saya telpon, kami hanya bisa bicara beberapa menit saja karena jarak membuat harga pulsa demikian mahal. Pacar saya menelpon dari telepon umum dan dia harus menyiapkan segepok koin untuk menelpon saya. Selesai telponan, rindu bukannya terobati justru malah semakin mencekam. Saya selalu berpikir alangkah nikmatnya kalo ada handphone yang bisa kita bawa kemana-mana. Nelpon semau kita dengan harga terjangkau. Intinya saya terlalu depresi menekan rindu yang begitu mencekam.

Taraaa…!!!! Tiba-tiba keinginan saya terkabul, loh. Semua khayalan tentang handphone terjadi bahkan lebih hebat dari harapan saya. Luar biasa! Sekarang kita gak perlu lagi tersiksa oleh rindu. Setiap rindu datang, kita tinggal telepon atau video call. Kita bisa tau persis, pacar kita ada di mana, pake baju apa, sama siapa, lagi ngapain. Semuanya termonitor. Luar biasa!

Sekarang saya sudah berkeluarga. Isteri saya adalah orang yang sangat sering mendapat tugas dari kantornya ke luar negeri. Kadang kantor tempatnya bekerja bisa mengirim dia tiga kali dalam 1 bulan. Yang paling sering, dia pergi ke Aussie. Tapi sesering-seringnya dia meninggalkan keluarga, saya tidak pernah sekalipun merasa tersiksa. Rasa rindu tidak menyiksa seperti dulu. Kenapa? Thanks to handphone! Isteri saya rajin banget kirim WA. Setiap ada perpindahan tempat, dia selalu WA. Misalnya: “Sampe bandara.”

Gak lama kemudian dia kirim lagi “Check in.”

Dilanjutkan dengan “Waiting room”.

Abis itu “Boarding”.

Beberapa lama kemudian, “Landing”.

Setelah itu ‘Sampe di hotel”

Berikutnya video call “Lihat ini kamar gue, Om Bud. Bagus ya? Kapan-kapan kita ke sini bawa anak-anak, ya?”

Selesai video call, WA dateng lagi “Meeting.” 

Message berikutnya “Alhamdulillah meeting selesai dengan lancar.” 

Kemudian video call lagi, “Gue lagi dinner di Darling Harbor, nih. Seagullnya makin banyak aja di sini. Reo pasti seneng banget kalo diajak ke sini lagi.”

Selesai video call, WA kembali mengambil peran, “Back to hotel.” 

Sebagai penutup hari “Nite2, Om Bud. Tidur dulu, ya?”

Selama berhari-hari, kiriman WA antara kami terus berlangsung secara intens. Begitu intensnya sehingga saya gak sempat merasa rindu. Alhamdulillah ya punya isteri kayak gitu? Dia meninggalkan kita tapi kitanya gak merasa ditinggalkan. Karena setiap saat dia selalu hadir melalui layar HP. Bukan cuma ke saya. Anak-anak pun diabsen oleh ibunya. Ditanya lagi apa. Ada PR atau nggak. Udah sholat belum. Tadi makan pake apa. Tidur jangan malem-malem dan sebagainya.

Saya kadang suka membandingkan jaman dulu dan jaman ada HP. Bukan menyesali kehadiran HP. Saya bersyukur banget, kok. Sumpe!. Tapi kalo dipikir-pikir, kerinduan yang menyiksa di jaman dulu rasanya kok terasa manis juga, ya?

Saya masih inget bagaimana jantung berdebar-debar ketika menjemput pacar di bandara. Rasanya seru menunggu dia ke luar dari dalam bandara.  Begitu muncul, kami berdua berlari saling menghampiri lalu berpelukan sepenuh erat. Kemudian saling mengamati satu sama lain sambil membatin, 'Kok pacar kita makin gemuk, kok rambutnya udah berubah warna, kok kulitnya makin putih dan masih banyak kok, kok lainnya.

Sekali lagi, bukan saya gak bersyukur. Saya bersyukur banget dengan adanya handphone. Ini cuma kehilangan kecil dari sisi kerinduan. Teknologi telah merenggut emosi rindu dari hubungan antar manusia. Teknologi memudahkan manusia sekaligus memusnahkan sisi kemanusiaan.

Aaaah….saya kangen pada rindu!