Akhir yang buruk adalah hal baik.

Semua akan baik ketika keadaan tidak baik.

Akhir yang buruk adalah hal baik.

Akhir yang buruk adalah hal baik.

Oleh : Ananda Mulia Nurmalasari

Di masa pandemi yang berkepanjangan seperti ini. Semenjak seluruh kegiatan di luar rumah berhenti. Semua orang mengandalkan jaringan internet untuk tetap berkomunikasi. Juga melaksanakan pekerjaan yang bisa di laksanakan di rumah. Hanya sekedar naik turun beranda sosial media juga sudah menjadi hal yang biasa. Saat ini, semua hal sangat mudah sekali di akses hanya dengan sekali klik. Apalagi para remaja millenial yang sangat piawai menggunakan sosial media sebagai alat komunikasi terkini. Sekarang, semua yang kita inginkan mudah sekali di jumpai.

Tapi, sejak sekolah di rumah. Kerja dari rumah. Sejak segala sesuatu di laksanakan di rumah. Semua kondisi pun berubah. Ekonomi berubah, komunikasi pun jadi berubah. Seharusnya dalam kondisi seperti ini komunikasi mampu membuat suatu kondisi menjadi lebih baik. Namun, beberapa masalah bermunculan. Tingkat perceraian pun meninggi saat pandemi. Kenapa bisa seperti itu. Faktornya sangat banyak.

Salah satu aspek yang memicu terjadinya perceraian adalah komunikasi yang kurang. Kesibukan yang memabukkan. Hingga terjadilah perceraian. Tak  salah memang. Ketika pekerjaan yang seharusnya di kerjakan di luar jadi beralih fungsi. Tak salah memang ketika sekolah formal harus di pindahkan ke rumah. Tak salah memang ketika bermain harus di rumah. Tak  salah memang seorang ibu lebih banyak mengomel dari biasanya.

Penempatannya saja yang memang tidak tepat. Menurut aku yang lelah berada di rumah. Menurut aku yang bosan melihat kegiatan ponakan selama sekolah online. Di mana peran orang tua? Tidak ada. Dia, salah satu ponakan yang memang aku sayang selalu memojokkan aku dengan setumpuk tugas  sekolah setiap harinya. Ayahnya yang selalu marah ketika pekerjaannya di ganggu. Ibu yang selalu membentak ketika kegiatan olshopnya di usik. Maka aku dengan sukarela mengajarkan semuanya.

Pada akhirnya tidak ada sedikit pun momen manis yang diciptakan dalam rumah. Meski mereka semua berkumpul bersama. Sang istri juga menjadi lebih sensitif dan sang suami hanya diam melihat kondisi mereka. Tanpa mau bicara atau pun bertindak. Komunikasi tidak tercipta dengan baik ketika suasana hati dan pikiran berantakan. Kondisi menjadi panas. Akhirnya hubungan yang telah tercipta belasan tahun pun kandas.

Dampak yang timbul dari kejadian di atas adalah anak yang terlantar. Mentalnya yang teramat menyedihkan. Orang tua yang tercerai berai. Ekonomi yang semakin tidak karuan. Semuanya semakin menyulitkan. Bangkit, kembali berjuang, lupakan mantan, besarkan tekad dan kemauan. Jalin komunikasi yang baik untuk diri sendiri juga sekitar. Semua masalah dapat selesai dengan komunikasi yang berjalan baik. Jangan jadikan akhir burukmu semakin menyedihkan. Bangkit dan buatlah awal baru yang lebih baik.