Ajakan Hijrah dari Bokong Truk

Ajakan Hijrah dari Bokong Truk

Setiap 1 Muharam umat Muslim di seluruh dunia memperingati pergantian tahun hijriyah, tahun dalam kalender Islam yang didasarkan pada perputaran bulan mengelilingi bumi. Tahun ini, pergantian tahun hijriyah dari 1441 Hijriyah ke 1442 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 20 Agustus 2020.

Memperingati tahun baru Islam, Pemerintah Indonesia menetapkan 1 Muharam sebagai hari libur nasional. Umat Muslim Indonesia diberikan kesempatan untuk memperingati dan merayakan pergantian tahun Islam sesuai dengan budaya dan kearifan lokal masing-masing.

Di masa normal sebelum terjadinya pandemi Covid-19, kegiatan memperingati tahun baru Islam yang biasanya dilakukan adalah menyelenggarakan doa bersama atau ceramah agama di masjid dan mushola, melaksanakan pawai obor keliling kampung, ataupun melakukan kirab atau parade keliling kota.

Bagi umat Muslim, hijrah pada bulan Muharam mengingatkan umat Muslim akan momen bersejarah hijrah Rasulullah dari Mekkah ke Madinah yang merupakan proses berpindah dari keadaan yang tidak baik menuju yang lebih baik.

Bukan hanya itu, hijrah yang terjadi pada bulan Muharam juga mengingatkan umat Muslim bahwa Muharam adalah bulan haram untuk melakukan peperangan dan bersikap dholim. Peperangan bukan hanya berarti mengangkat senjata, membunuh, dan memerangi orang yang dianggap dholim, berperang juga bisa diartikan berselisih. Umat Muslim dilarang untuk memulai perselisihan dan bertengkar yang tidak ada manfaatnya.

Untuk bisa melakukan hijrah sejatinya tidak bisa ujug-ujug. Islam mengajarkan proses berhijrah dengan sangat jelas yang ditunjukkan lewat kegiatan-kegiatan besar yang terjadi sebelum masuk Muharam. Di bulan ke-12 dalam kalender Hijriyah yang dikenal sebagai bulan Zulhijah, umat Muslim diajarkan untuk berkurban dengan niat suci dan tulus. Agar niat berkurban tercapai maka umat Muslim terlebih dahulu harus membersihkan diri dari perbuatan tercela (kembali fitri) melalui puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan (bulan ke-9 dalam kalender Hijriyah). Apabila rangkaian ibadah ini dilaksanakan dengan penuh kesungguhan maka hijrah di bulan Muharam akan terlaksana dengan baik. Ada perubahan dari yang belum baik menjadi baik, dari yang sudah baik menjadi lebih baik.

Dan di tengah suasana peringatan tahun baru Islam 1442 Hijriyah, ingatanku tiba-tiba tertuju pada tulisan yang sering muncul di bak dan bokong truk. Seperti halnya bus, truk dapat diibaratkan sebagai raksasa jalan raya yang kehadirannya menakutkan. Kalau truk (dan bus) sudah melaju kencang maka bisa menjadi ancaman kendaraan-kendaraan lainnya, terutama kendaraan kecil.

Aku punya pengalaman tersendiri bagaimana truk bisa menjadi ancaman di jalan raya. Suatu ketika dalam perjalanan kembali dari mudik, kendaraan jenis keluarga yang aku kemudikan hendak disalib oleh sebuah truk. Aku pun mencoba mengambil jalur kiri untuk memberikan kesempatan truk melewatiku dari sisi kanan. Saat sudah berada di sisi kanan, tiba-tiba truk tersebut oleng dan bergeser ke kiri menyerempet bagian kanan kendaraanku. Untung aku sigap mengarahkan kendaraan ke sisi kiri jalan yang tidak beraspal sehingga kendaraanku hanya tergores sedikit.

Usut punya usut, ternyata sopir truk mengantuk sejenak saat hendak menyalib kendaraanku. Sang sopir truk yang berusia separuh baya mengaku kecapekan karena sudah seharian mengemudi dan belum sempat istirahat. Akibatnya kurang konsentrasi dan mengantuk saat mengemudi.

Awalnya aku sempat marah melihat kelalaiannya mengemudi yang berakibat merugikan orang lain, dalam hal ini aku sendiri. Namun ketika melihat kepasrahan sopir truk dalam mengakui kesalahannya dan mendengar penjelasan yang disampaikannya dengan memelas, akupun tidak jadi marah sepenuhnya.  

Begitulah salah satu sisi lain dari pengemudi truk. Ternyata di luar sisi truk yang menakutkan, terdapat sisi humanis yang muncul dari sang pengemudi dan tentu saja dari badan truk itu sendiri. Lewat tulisan-tulisan di bokong truk yang menggemaskan.

Tulisan yang ada di bak dan bokong truk bukan hanya menggemaskan, lucu dan menghibur tetapi juga bisa menginspirasi. Tulisan yang bukan sekedar remeh temeh tetapi bisa mencerahkan jiwa, memberikan semangat dan dorongan kuat. Bukan hanya untuk pengemudi dan kernet truk, tetapi juga bagi kita yang membacanya. Bukankah ini juga bagian dari semangat hijrah?

Ingatan tentang sisi humanis di bokong truk kembali muncul ketika aku dan lima orang teman sedang beristirahat sejenak di rest area KM57 dalam perjalanan menuju Subang. Aku melihat beberapa truk ikut masuk ke rest area tersebut dengan beberapa di antaranya memiliki tulisan-tulisan yang menarik di bak dan bokongnya seperti “Tidak ada kata terlambat untuk berubah,” Jika beban hidupmu sudah terlalu berat ragamu tak lagi kuat, ngisingo ben ro dok lego,” atau yang paling legendaris “Kutunggu jandamu” dan “Piye isih penak jamanku tho?”.

Tulisan-tulisan menggemaskan di bokong truk tersebut sering kita jumpai di jalan raya. Tulisan-tulisan tersebut dan gambar yang menyertainya (seringnya gambar wanita cantik atau artis) bukan sekedar hiasan, tetapi memberi pesan kepada pembacanya, mengundang gelak tawa bahkan sampai membuat pembacanya merenungkan makna tulisan yang sesungguhnya.

“Tulisan dan gambar di bokong truk lucu karena ia mewakili kenyataan hidup kita sehari-hari. Ada nilai filosofis yang bisa kita tarik dari tulisan di bokong truk. Tulisan yang mengajak pembacanya hijrah, maksudnya mengajak berbuat baik” ujar Abie, temanku pertama yang membuka obrolan tentang tulisan di bokong truk

“Ah serius? Kok elo tau sih?,” sahut Wanto, temanku yang kedua sambil menyeruput kopi panas yang dipesannya

“Serius lah. Jelek-jelek begini kan gua punya beberapa truk pengangkut pasir dan tanah di proyek pembangunan. Meski tidak seseronok truk angkutan barang yang hilir mudik di jalan raya, kadang gue lihat beberapa orang sopir menuliskan kata-kata tertentu di bagian belakang truk. Kata-kata yang dituliskan tidak jarang yang sangat bermakna, walau ditulis dengan kesan seadanya” jawab Abie.

“Saat gua tanya kenapa menuliskan kata-kata di bokong truk, mereka menjawab buat hiburan dan curhat karena jarang bertemu keluarga. Dan gara-gara melihat tulisan tersebut, maka gua jadi sering memperhatikan tulisan-tulisan di truk lainnya,” ujar Abie lebih lanjut.

“Bahkan kemudian gua malah berpikir bahwa sesungguhnya sebagian dari sopir truk adalah filsuf. Tentu saja jangan bayangkan mereka sebagai sosok filsuf yang berwajah serius dan gemar melahap buku-buku filosofi tebal. Sopir truk adalah filsuf jalanan yang bisa menyikapi hidup dengan cara jenaka. Mungkin prinsipnya “Untuk apa pintar kalau tidak lucu,” jawab Abie.

“Abie, dimana nilai filosofi dari tulisan di bokong-bokong truk tersebut,” tanya Wanto

“Elo pernah baca atau setidaknya dengar tulisan di bokong truk yang berbunyi “Satu istri dua anak cukup, dua istri semaput?,” Abie balik bertanya

“Iya gue pernah lihat. Gue kira tadinya pesan keluarga berencana. Tapi pas ada bagian dua istri semaput alias pingsan, gue lantas berpikir bahwa si sopir truk sebenarnya ingin mengingatkan teman-temannya agar beristri satu saja. Meski sopir yang beragama Islam diperbolehkan beristri empat menurut hukum agama, tapi sopir truk yang penghasilannya pas-pasan tidak usah sok-sokan memiliki istri lebih dari satu,” jawab Wanto

“Benar sekali. Meskipun kalimatnya sederhana, tapi kalimat itu seperti sebuah respon atas gencarnya wacana atau gairah terhadap poligini, seorang pria beristri lebih dari satu. Bahkan belum lama ini ada kampanye tentang poligini yang dilakukan secara gencar. Muncul propaganda mengenai idealnya beristri lebih dari satu,” papar Abie

“Gue juga ingat, elo juga pernah membagikan brosur poligini di group WA kan To?.” tanya Abie ke Wanto

“Ha ha ha iya Bie. Gara-gara brosur tersebut gue jadi ikut-ikutan membayangkan hidup dengan dikelilingi banyak istri barangkali terasa keren. Makan malam, jalan-jalan ke mal atau mengaji sambil ditemani para istri akan terlihat gagah bila dipajang di media sosial,” jawab Wanto dengan ceria

“Nah itu dia, poligini memang selalu menjadi tema obrolan yang seru di kalangan bapak-bapak, termasuk tentu saja sopir truk. Tidak sedikit lho sopir truk yang bercita-cita punya istri di setiap peristirahatan dalam perjalan. Ya mirip-mirip semboyan pelaut jaman dulu, punya istri di setiap kota pelabuhan. Tapi, para sopir truk alias filsuf jalanan kita mengingatkan sisi yang sering terlupakan dalam semangat yang menggebu tersebut: semaput, pingsan. Ada realita yang harus disadari bahwa kenyataan tidak selalu seindah harapan. Punya istri satu saja belum tentu bisa memberikan nafkah yang mencukupi, apalagi beristri lebih dari satu. Bisa pingsan deh” Jelas Abie.

“Tuh dengerin penjelasan Abie. Kalau pangkat kopral jangan mimpi seperti jenderal. Semaput itu sangat mungkin berarti tragedi secara fisik. Menafkahi dua orang istri (apalagi lebih) berikut anak-anaknya bukan perkara mudah. Mereka harus kerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tidak murah. Gua jadi ingat kata-kata di sebuah artikel di mojok.com yang berjudul “Filsafat Hidup di Bokong Truk”, “jangan lupakan kenyataan bahwa “golek duit pancen angel, tuyul wae sambat” alias cari duit itu susah, tuyul aja ngeluh, orang bisa benar-benar semaput,” sela Hermen, temanku yang ketiga, yang dari tadi asyik update status di gawainya

“Benar banget Men. Bahkan bagi keluarga yang berkecukupan pun, bisa pingsan kalau beristri lebih dari satu. Lihat saja pengalaman Aa Gym yang sempat goyah ketika beristri lagi. Karena itu, tidak mengherankan bila ada kata-kata bijak di bokong truk tentang bagaimana menjaga hati, “Ora usah dolanan barang sing nyelempit. Nikmate sak menit rekosone sundul langit” (nggak usah main barang sempit. Nikmat semenit, deritanya sampai langit). Atau “Jangan tinggalkan yang baik demi yang menarik,” kali ini Wanto yang berkomentar

“Lalu bagainana dengan tulisan di bokong truk yang bertujuan untuk melucu? Apakah semua tulisan di bokong truk bermaksud untuk melucu,” tanya Hermen, mengalihkan pembicaraan soal poligini.

“Menurut gua sih, tidak semua jenis tulisan di bokong truk dimaksudkan melucu. Seringkali kita mendapati tulisan berupa nasihat, kritik nakal, protes, sindiran, gerundelan, atau curahan hati. Salah satu contohnya yang tadi disebutkan Wanto yaitu “Jangan tinggalkan yang baik demi yang menarik.” Semua tulisan di bokong truk memliki kesamaan yaitu realistis, apa adanya dan terkadang menjanjikan ironi. Mungkin karena itu sebabnya ia menjadi lucu,” jelas Abie lebih lanjut

“Bisa diberikan contoh tulisannya?,” tanya Hermen lagi

“Lho tadi kan gua sudah kasih contoh dari kata-kata yang disebutkan Wanto. Tapi baiklah gua kasih contoh lain yaitu tulisan “Jika beban hidupmu sudah terlalu berat ragamu tak lagi kuat, ngisingo ben ro dok lego (buang air besar lah biar lega),” jawab Abie sambil menunjuk bokong sebuah truk yang diparkir di area kendaraan besar.

“Coba elo perhatikan deh pesan dari tulisan tersebut. Gua kira sopir truk sedang meminta mereka yang membaca tulisan di bokong truknya untuk menghadapi hidup dengan sederhana. Tidak harus repot-repot memikirkan hidup ini. Memang kesannya agak nyeleneh dan jorok karena pakai kata “ngisingo” (buang air besar). Tapi hidup memang begitu. Masalah yang sering kali muncul dalam kehidupan seperti saat kita sakit perut karena kebanyakan rujak pedas. Kalau sudah enggak kuat, ya cepetan buang air besar agar lega. Sakit perut jangan ditahan-tahan, nanti bisa kecepirit di celana,” tambah Abie sambil tertawa lebar.

Sambil tersenyum dan membatin aku membenarkan perkataan Abie. Akupun kemudian turut meyakini bahwa makna tulisan tersebut merupakan perwujudan sikap nrimo (pasrah) para sopir truk dalam menjalani kehidupan. Mereka paham bahwa apabila hidup dipenuhi oleh banyak beban maka rasanya memang begitu berat. Ketika banyak orang merasa tidak mampu lagi menghadapi kehidupan yang berat, para sopir truk justru bisa menghadapinya dengan santuy. Menerima kehidupan apa adanya. Hidup memang begitu, mau diapakan lagi.

Simak saja bagaimana mereka menyikapi masalah asmara. Dengan ringan sopir truk menuliskan soal asmara di bokong truk dengan kata-kata sebagai berikut “Jangan menangis karena cinta, tapi menangislah karena dosa.” Lagi-lagi kalimat atau tulisan di bokong truk tersebut sangat sederhana, namun maknanya ternyata tidak sesederhana yang diperkirakan. Ada cerminan kepasrahan dan ketaatan kepada sang maha pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Coba, mana ada orang yang tidak taat pada Tuhan Yang Maha Esa yang ingat akan dosa.

Masih soal asmara, bagi sopir truk, putus cinta bukan satu-satunya persoalan di dunia. Bagi sopir truk, “putus cinta soal biasa, putus rem mati kita”. Karena ketika putus rem, nyawa taruhannya. 

“Elo semua tau enggak bahwa di dalam kesederhanaan kalimat atau tulisan di bokong truk, sesungguhnya terdapat makna yang mendalam, bukan sekedar lucu-lucuan,” ujarku ikut nimbrung.

“Tadi Abie sudah menjelaskan bahwa ada kesantuy-an yang dilakukan sopir truk dalam menyikapi hidup. Tapi bukan sekedar santuy dan nrimo, ada juga sikap ketaatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ada keyakinan bahwa berbuat salah itu adalah dosa. Karenanya perlu upaya membersihkan diri dari dosa-dosa, baik dosa kecil ataupun besar, yang dalam istilah agama disebut taubat,” tambahku

“Benar sekali Ris. Wah omongan elo sudah mirip ustad,” sahut Adut, temanku yang keempat, yang dari tadi diam saja.

“Ha ha ha … enggak lah, gua belum cocok jadi ustad. Tadi waktu elo semua mendengarkan penjelasan Abie, gue coba googling. Gua lihat-lihat tulisan-tulisan lain di bokong truk. Selain foto-foto bergambar tulisan di bokong truk, ternyata banyak pula tulisan yang membahas mengenai kata-kata di bokong truk dari berbagai aspek. Ada yang membahasnya secara serius, ada juga yang menuliskannya dengan santai dan menghibur. Pokoknya semua tentang kata-kata di bokong truk,” jawabku

“Teman-teman, selain pembahasan dari aspek filosofis ataupun agama, yang tidak kalah seru adalah membahas tulisan di bokong truk dari sisi penulisan itu sendiri,” sela Bowo, temanku yang kelima.

“Maksudnya bagaimana Wo?,” tanya Adut, sambil tangannya menyomot tahu goreng Sumedang dan cabe rawit dari bungkusan kantong plastik

“Begini, kebetulan gue baru saja ikutan belajar menulis online di group Whatsapp bimbingan om Budiman Hakim dan Kang Asep Herna. Ada beberapa teori dasar menulis yang diajarkan beliau yang menurut gue cocok untuk digunakan menganalisis tulisan di bokong truk,” jawab Bowo

“Budiman Hakim yang biasa dipanggil Om Bud, adiknya Pak Chappy Hakim mantan KSAU ya Wo?,” potong Hermen sebelum Bowo bicara lebih lanjut

“Benar sekali Men. Om Bud, orang top di periklanan dan sudah banyak menulis buku yang keren. Dia adiknya Pak Chappy Hakim, yang juga sudah banyak menulis buku,” jawab Bowo

“Jadi begini teman-teman, dalam salah satu sesi penulisan dijelaskan mengenai perlunya kita senantiasa menggunakan kata-kata positif. Hindari penggunaan kata “JANGAN”, “TIDAK BOLEH” dan sebagainya. Karena kalau kita menggunakan kata-kata tersebut, maka alam bawah sadar pembaca justru mengarahkan untuk melakukan tindakan sebaliknya,” lanjut Bowo sebelum dipotong lagi oleh yang lain

“Coba kita tulis kata “JANGAN BACA PARAGRAF KETIGA TULISAN INI”, maka dapat dipastikan sebagian besar pembaca akan mencari paragraph ketiga dan membacanya. Tentu saja karena penasaran dan keingintahuan. Kenapa kok dilarang,” jelas Bowo lagi

“Penulisan tersebut juga sangat erat dengan teknik lainnya yang  disebut Pre Suposisi yang diadopsi Kang Asep dari Neuro Linguistic Programming. Katanya Teknik ini sering dipakai untuk terapi, untuk mensugesti yang dikemas sebagai sebuah praduga bahwa akan TERJADI sebuah tindakan/kejadian, di WAKTU TERTENTU, di RUANG TERTENTU. Praduga atau asumsi ini membentuk sugesti kuat yang menggiring audience/pembaca untuk merealisasikannya,”jelas Bowo.

“Bagaimana contoh tulisan yang ada di bokong truk yang menggunakan Pre Suposisi Wo?,” kali ini Abie yang bertanya

“Ehm … apa ya. Oo … mungkin ini “NGEBUT adalah IBADAH semakin NGEBUT semakin DEKAT dengan TUHAN”, perhatikan kata-kata NGEBUT yang diulang-ulang yang menyiratkan akan terjadinya sebuah tindakan/kejadian di waktu tertentu kalau sopir truk ngebut yaitu semakin ngebut maka akan semakin cepat bertemu TUHAN,” jelas Bowo

“jadi kalau enggak mau cepat-cepat bertemu Tuhan, yang jangan ngebut lah. Kemudikan truk dengan kecepatan wajar sesuai peraturan jalan raya yang berlaku,” pungkas Bowo

“Oke deh teman-teman, kopi dan tahu goreng kita sudah habis. Istirahat dan obrolan kita sudah cukup lama. Yuuk kita hijrah ke tempat berikutnya. Kita enggak usah ngebut, santuy saja,” ajakku mengakhiri obrolan kami di rest area KM57

“Yang pasti, lewat tulisan di bokong truk, kita belajar bahwa mengajak hijrah orang, termasuk juga membahagiakan orang lain, bisa dilakukan dengan sederhana. Tanpa perlu pakai buzzer dan pencitraan di sana-sini. Melalui kata-kata di bokong truk, orang bisa tertawa bahagia. Syukur-syukur mendalami filosofinya,” simpulku

“Setuju … yuuk kita hijrah … eh jalan,” seru teman-temanku serentak tanpa dikomando

 

Bekasi, 22 Agustus 2020