Ahai Senja, Begitulah Ia

Ahai Senja, Begitulah Ia
Foto dari Pexels.com

Aku terkesima saat melihat nyala api di tungku kompor
Biru, sunyi, hangat dan lembut
Seperti sorot matamu yang menyimpan cinta
Selalu kurindukan tatap mata itu
: tak pernah ingin sudah jika bersua
: tak pernah ingin pisah jika berdua

Sunyi tak lagi siksa
Sendiri bukan lagi bencana
karena hatiku penuh akan dirimu
Ingatan tentangmu selalu melingkupi kepalaku
Menderas seperti hujan 
Namun tidak sampai membuatku menggigil kuyup
Namun justru hangat seperti dalam selimut di sergapan dingin pagi

"Sayang, tolong potongkan kuku di kelingkingku. Ujungnya robek," pintamu
Lalu tanpa menunggu jeda
Kupotongkan kuku di kelingkingmu 
pelan dan hati-hati
Sesudahnya kuhaluskan ujung kukumu sampai tak kasar bergerigi

"Hmm kukuku jadi cantik dan halus lagi, Sayang," ucapmu sambil mengecup keningku
Darahku mendesir
Damai mengalir

Lalu senja kita habiskan bersama dengan secangkir teh hangat
Sambil melepas matahari perlahan menghilang

Cilacap, 12 Desember '19