‘Agenda Setting’ Solusi Komunikasi di Kala Resesi Akibat Pandemi

‘Agenda Setting’ Solusi Komunikasi di Kala Resesi Akibat Pandemi

Agenda Setting’ Solusi Komunikasi di Kala Resesi Akibat Pandemi

Sumber gambar: Teori Agenda Setting | Himikom - Universitas Bengkulu (himikomunib.org)

Agenda setting adalah menciptakan public awareness di masyarakat terkait suatu isu yang sedang ingin diangkat ke publik. Tujuannya agar didengar, dibaca, digunakan, dan dipercaya oleh masyarakat melalui peran-peran media. Adapun pengertian agenda setting dalam istilah komunikasi menurut Maxwell E. McCombs dan Donald L. Shaw mereka berpendapat bahwa media massa memiliki kemampuan untuk mentransfer hal yang menonjol yang dimiliki sebuah berita dari news agenda mereka kepada public agenda. Pada saatnya, media massa mampu membuat apa yang penting menurutnya, menjadi penting pula bagi masyarakat. (Nuruddin, 2007: 195). Sedangkan menurut Stephan W. Littlejohn dan Karen A. Foss mengemukakan bahwa agenda setting theory adalah teori yang menyatakan bahwa media membentuk gambaran atau isu yang penting dalam pikiran. Hal ini terjadi karena media harus selektif dalam melaporkan berita. Saluran berita sebagai penjaga gerbang informasi membuat pilihan tentang apa yang harus dilaporkan dan bagaimana melaporkannya. Apa yang masyarakat ketahui pada waktu tertentu merupakan hasil dari penjagaan gerbang oleh media (Littlejohn & Foss, 2009: 416).

Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa agenda setting adalah bagian dari strategi komunikasi oleh media massa untuk mengangkat isu yang paling penting untuk dibahas dan ikut dipikirkan oleh masyarakat, yang mana dampaknya cukup luas baik dari aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Maka dari itu penulis menawarkan solusi untuk perekonomian Indonesia yang sedang krisis dampak akibat pandemi melalui peran komunikasi massa yaitu agenda setting. Berikut ulasannya.

Kita sadar bahwa sudah hampir satu tahun dunia khususnya Indonesia dihadapkan oleh situasi sulit yaitu pandemi COVID-19. Virus yang pada awalnya ditemukan di Kota Wuhan Cina yang kemudian menyebar ke seluruh dunia sehingga menjadi pandemi global. Sejak kasus virus pertama di Indoensia yaitu pada bulan Maret 2020 hingga saat ini memasuki 2021 total kasus positif mencapai 797.723 (pertanggal 7 Januari 2020). Dampak dari pandemi COVID-19 tidak hanya dari segi peningkatan angka jumlah positif, namun juga pertumbuhan ekonomi yang mana dimulai dari sektor mikro hingga makro merasakan tamparan keras sehingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2020 minus 5,32% pada kuartal II sedangkan pada kuartal III berdasarkan data BPS minus 3,49%. Untuk itu bisa dikatakan Indonesia sudah memasuki resesi meski tingkat keparahannya di banding negara lain di Asia Tenggara Indonesia masih lebih baik. Maka dari itu perlu adanya peran yang strategis dengan pemanfaatan fungsi komunikasi. Mari kita bedah secara terperinci fungsi komunikasi khususnya pemanfaatan agenda setting di dalam membangun kembali ekonomi Indonesia dari bencana resesi.

Membuat Agenda Setting ‘#Yuk Jajan’

Sumber gambar: Pendaftar Membludak, Bantuan UMKM Dibuka Kembali Tahun Depan - Suara Jateng

Pemerintah yang mempelopori gerakan ini melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dengan memfungsikan berbagai tools media informasi untuk mengajak masyarakat membeli berbagai macam kebutuhan di dalam negeri dari skala toko, warung, pedagang kaki lima, dan UMKM. Hal ini dimaksudkan agar kembali mengangkat kelesuan ekonomi karena dampak pandemi yang mana daya beli masyarakat sangat lemah ketika pandemi yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi menjadi minus. Mengapa bisa dimulai dari mengajak produk UMKM, warung, atau toko di sekitar rumah? Karena UMKM sendiri adalah bagian penopang perekonomian yang cukup besar di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (KUKM) tahun 2018, jumlah pelaku UMKM sebanyak 64,2 juta atau 99,99% dari jumlah pelaku usaha di Indonesia. Daya serap tenaga kerja UMKM adalah sebanyak 117 juta pekerja atau 97% dari daya serap tenaga kerja dunia usaha. Sementara itu kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional (PDB) sebesar 61,1%, dan sisanya yaitu 38,9% disumbangkan oleh pelaku usaha besar yang jumlahnya hanya sebesar 5.550 atau 0,01% dari jumlah pelaku usaha. UMKM tersebut didominasi oleh pelaku usaha mikro yang berjumlah 98,68% dengan daya serap tenaga kerja sekitar 89%.

Berdasarkan data di atas, solusi dengan mengajak masyarakat untuk membeli produk UMKM ketika pandemi dapat dilakukan untuk memulihkan ekonomi. Karena saat ini masyarakatlah yang menjadi “Pahlawan Ekonomi” di kala pandemi dibandingkan saat resesi tahun 2008 yang mana sektor UMKM lah yang berperan menjadikan Indonesia saat itu dapat bertahan diterpa krisis. Akan tetapi krisis saat ini UMKM ikut terbelenggu dan tak mampu bangkit, bahkan menurut data ada 72% UMKM tidak produksi akibat COVID-19 sehingga berdampak juga terhadap pemutusan hubungan kerja dan meningkatnya pengangguran. Peran masyarakat untuk Kembali "Jajan" khususnya masyarakat kelas menengah sangat besar. Kelas menengah bukan saja bisa menjadi motor kebangkitan ekonomi nasional setelah tiarap akibat pandemi.

Berdasarkan laporan Bank Dunia pada tahun 2019 yang berjudul Aspiring Indonesia-Expanding the Middle Class yang dipublikasikan akhir Januari lalu menyebutkan, di Indonesia terdapat sekitar 52 juta penduduk kelas menengah. Berarti satu dari lima penduduk negeri ini masuk kelas menengah, yaitu kelas yang aman dari risiko jatuh ke kelas miskin atau kelas rentan, dengan nilai konsumsi Rp 1,2 juta sampai Rp 6 juta per bulan. Selain itu uang Rp 6 juta per bulan yang dihabiskan kelas menengah Indonesia umumnya digunakan untuk jalan-jalan, jajan atau membeli hal-hal yang berkaitan dengan hiburan, bahkan membeli mobil. Untuk itulah terdapat peran komunikasi di sini untuk kembali mengajak masyarakat khususnya kelompok masyarakat menengah juga tentunya kelas atas melalui peran komunikasi strategis yaitu Program kampanye #YukJajan agar masyarakat secara luas mendapatkan terpaan kampanye ini dan terpengaruh untuk berbelanja namun tetap memperhatikan prokol kesehatan yang dapat dimulai dari jajan ke warung-warung di lingkungan sekitar tempat tinggal, jajan di kaki lima, dan membeli produk-produk hasil UMKM baik yang sudah diproduksi dengan penjualan offline atau online. Strategi agenda setting dapat berhasil diantaranya apabila intensitas terpaan begitu massif ditunjang dengan isi pesan yang komunikatif dan menarik.

#YukJajan digaungkan dengan adanya tagline heroik yang nyeleneh “Jajanmu Menyelamatkan Ekonomi Bangsa” dan narasi yang menegaskan bahwa negara membutuhkan peran dari masyarakat untuk keluar dari krisis ekonomi cukup dengan hanya berbelanja berbagai kebutuhan baik makanan dan minuman, pakaian, dan lain sebagainya dari produk lokal. Sudah lama kita mengenal local pride yang sudah lebih dahulu digaungkan dan sukses mengangkat berbagai brand lokal seperti fashion. Maka #YukJajan hampir serupa dengan itu akan tetapi adanya tingkat terpaan kampanye yang lebih tinggi dan luas, sehingga mampu memainkan secara psikologis untuk menarik minat masyarakat tentu dengan peran pemerintah, media, youtuber, tiktoker, dan selebgram sebagai duta #YukJajan, membuat iklan yang mana tokoh/influencer yang menjadi talent iklannya terkait #YukJajan dengan isi pesan ajakan masyarakat agar mau jajan dengan memperhatikan protokol kesehatan yang dipasang di banner pinggir jalan, iklan media sosial, membuat merchandise #YukJajan, iklan di televisi, sampai menaikan tanda tagar di twitter agar menjadikan #YukJajan semakin viral. Secara teoritis memang terpaan suatu pesan kampanye akan lebih menarik perhatian dan diikuti apabila ada orang terkenal atau tokoh yang menjadi panutan masyarakat yang memberikan contoh dan mengajaknya. Ketika masyarakat sudah banyak yang mengenal kampanye jajan/belanja produk UMKM dampaknya akan sangat besar di dalam pemulihan ekonomi, yaitu roda produksi UMKM akan kembali berputar saat semakin banyaknya permintaan konsumen, menaiknya nama produk/brand lokal dari berbagai sektor, serta tentu pertumbuhan ekonomi Indonesia akan  kembali optimis keluar dari krisis. Selain itu solusi agenda setting ini mudah digunakan oleh pemerintah karena memang pemerintah memiliki kendali yang luas di dalam penyebaran informasi melalu media baik konvensional atau online.

Inti dari agenda setting sendiri memang adalah meningkatkan kesadaran dengan mengangkat suatu isu, daripada masyarakat terus termakan berita dan informasi hoax alangkah baiknya media informasi sekarang difungsikan untuk mengajak masyarakat untuk membangun perekonomian negara yang sedang terancam dan krisis. Peran komunikasi massa lain khususnya agenda setting untuk pemulihan pasca pandemic cukup beragam, selain #YukJajan untuk mengajak masyarakat berbelanja produk dalam negeri khususnya UMKM juga bisa digalakan kampanye #YukSedekah #YukPakeMasker atau konsep lainnya. Penulis berharap ide ini dapat digunakan di dalam pemulihan ekonomi Indonesia akibat dari bencana non alam yaitu pandemi COVID-19, yang mana semua komponen bisa saling bahu membahu berperan apalagi melalui langkah sederhana dan menyenangkan yaitu cukup jajan ke warung samping rumah misalnya. #YukJajan.

 

Daftar Pustaka

Ritonga, Elfi Yanti. “Teori Agenda Setting dalam Ilmu Komunikasi Theory of Setting Agenda in Communication Science”. Medan: Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Indonesia.

Kelas Menengah Penyelamat Ekonomi (investor.id)

UMKM Bangkit, Ekonomi Indonesia Terungkit (kemenkeu.go.id)