3030 (Bagian Ketiga) -Putus Cinta Sudah Biasa, Putus Rem Matilah Kita-

Sebuah Cerita Bersambung. Trilogi, 3 Bagian. Ini adalah PR menulis dengan inspirasi tulisan di truk . Untuk bagian Ketiga ini saya ambil dari: -Putus Cinta Sudah Biasa, Putus Rem Matilah Kita-

3030 (Bagian Ketiga)  -Putus Cinta Sudah Biasa, Putus Rem Matilah Kita-



Bagian Ketiga

-Putus Cinta Sudah Biasa, Putus Rem Matilah Kita-



Aku tidak lama menginap di rumah mereka.
Aku segera pulang karena tidak tahan melihat pertengkaran mereka. Tampaknya cinta mereka yang menggebu gebu mulai padam,
karena jurang perbedaan yang begitu dalam.

Tapi sebelum pulang aku memberikan mereka alat komunikasi yang bisa di akses dari tempat purba juga. Bukan telpon seperti yang kalian kenal. Tapi mirip fungsinya. Tapi demi memudahkan kita sebut saja telpon.

Doni sangat ingin pindah ke Time society.
Karena itu aku membantunya mendaftarkan ke Badan Seleksi Perpindahan Antar Society. BSPAS. Jarang ada yang bisa lolos seleksi yang sangat ketat itu. Tapi dengan bantuan semua orang tuaku dan semua orang tua Lili, yang berpengaruh di society kami, juga kemampuan Doni yang luar biasa, Akhirnya Doni lolos seleksi.
Sebentar Lagi Doni boleh pindah ke Time society.
Tapi diluar dugaan Lili bersikeras untuk tetap tinggal di Money society.

“Aku ingin mengurus bayiku sendiri, aku tidak mau menyerahkan bayiku pada Badan Perawat Anak” katanya. Bayinya belum lama lahir, mungkin sedang lengket-lengketnya hubungan ibu dan anak.
“Mungkin kamu bisa menunggu anakmu agak besar, baru kamu pindah.” kataku lewat telpon.
“Enggak, aku mau bersama anakku selamanya!, aku tidak mau dipisahkan.
Kita cuma bisa ketemu orangtua kita beberapa kali setahun di Time society. Itu juga bergantian dengan orangtua yang berbeda. Anak aku lahir alami dari hubungan cinta orang tuanya, bukan dari lab. Dia cuma punya 1 ibu dan 1 bapak!” kata Lili.
“Dia cuma punya 1 bapak, tapi kamu mau memisahkan dia dengan bapaknya?” tanyaku.
“Aku juga tidak mau Doni pergi, Tapi dia keras kepala mau pindah” kata Lili.
“Mungkin Doni tidak mencintaiku, hanya memanfaatkan aku, agar bisa pindah ke Time society.” Lili mulai curiga.
“Mungkin kamu yang memanfaatkan aku, agar bisa pindah ke Money society!” kudengar suara Doni di samping Lili.
Mereka mulai bertengkar lagi.

 

Akhirnya pada hari yang ditentukan, Doni berhasil pindah ke Time society.
“Lili tidak ikut?” tanyaku menyambut Doni. 
Walaupun aku sudah tahu keputusan Lili sejak lama, tapi aku masih tetap berharap dia bisa berubah pikiran.
“Lili keras kepala, ingin menetap di Money Society!” kata Doni.

Petugas memberikan robot wanita kepada Doni.
“Kamu bisa memilih wajah apa saja untuk robot itu, dan bisa diganti sesering mungkin!” kata petugas sambil menerangkan cara penggunakannya.
“Aku akan memasang wajah cantik Lili di robot ini.” kata Doni.
“Apakah Lili akan datang setelah anaknya besar?” tanyaku berharap.
“Dia bilang dia tidak akan kembali selamanya.” kata Doni.
Ironis. Lili pindah ke Money society karena Doni. Tapi justru mereka berpisah karena Doni pindah ke sini.

“Kamu tidak sedih berpisah dengan anakmu?” tanyaku.
“Aku akan usahakan agar anakku bisa pindah ke sini, bila dia sudah agak besar nanti.” katanya.
“Karena umurmu 20 tahun, maka kamu bisa mendaftar ke Badan Seleksi Pasangan.” kata petugas penerimaan.
“Tidak, terima kasih, saya sudah cukup puas ditemani robot saja!” kata Doni.
“Apakah karena kamu cinta mati sama Lili, jadi tidak mau berganti pasangan?” tanyaku penasaran.
“Mungkin bukan, tapi saya sudah kapok punya istri, lebih baik sendiri. Ribet punya istri diomelin terus.” katanya tersenyum.
“Ada robot yang bisa masak, bisa beres beres rumah, bisa bercinta, buat apa punya istri?” tambahnya.
Robotpun sudah berhasil dipasang seperti wajah Lili. Doni menamainya Lili.
“Lili, tolong ambilkan makan siang, aku lapar sayang!” kata Doni.
Robot itu bergegas mengambilkan Doni menu makan siang.
” Ah Lili, kamu cantik sekali. Aku suka kalau kamu penurut seperti ini!” kata Doni membelai robot itu.”

 

 

Sementara itu di Money Society, Lili sedang bersedih menangisi kepergian Doni.
Sudah sebulan Lili hidup sendiri, hanya bersama bayinya saja. Dia makin stress.
Lili mulai menyesali keegoisannya dan perangainya yang suka membentak-bentak Doni.
Mungkin karena hormon selama hamil dan menjadi ibu baru, membuatnya emosional, pikirnya.

Tiba tiba pintunya digedor-gedor keras, serombongan Polisi masuk.
“Ada apa ini?” tanya Lili kaget.
“Kami mendapat laporan tetangga, anda penyusup dari Time society, dan anda membunuh salah satu warga kami yang bernama Doni!” kata Polisi sangar itu.
“Apa, saya tidak membunuh Doni!’ kata Lili membela diri.
“Ini rumah Doni, kenapa anda ada di sini?, Di mana Doni?” tanya Polisi yang lain.
Lili tidak dapat melaporkan bahwa Doni pindah ke Time Society.
Ini akan berakibat fatal. Seluruh keluarga Doni akan ikut di penjara.
“Aku tidak tahu di mana Doni, tapi dia pergi dari rumah.” kata Lili sambil memeluk erat bayinya.

Aku menyaksikan semua itu dari layar alat komunikasi kami yang tersembunyi. Tapi aku tidak bisa berbuat apa apa untuk membantunya.

“Kamu pembohong, kamu yang membunuh Doni, kami sudah mencari Doni ke mana-mana tidak ada.” kata Polisi.
“Kenapa kamu bisa tinggal di rumah Doni?” tanya Polisi.
“Saya istrinya”
“Bohong, pernikahan kalian tidak tercatat di catatan sipil!” kata polisi itu.

“Kami tidak menikah di catatan sipil, tapi kami saling cinta dan kami pasangan suami istri!”
“Kalau tidak menikah kalian bukan suami istri, itu kumpul kebo!” kata Polisi itu.
“Kamu penduduk illegal ya ?, Kamu tidak tercatat sebagai penduduk di sini!”
“Ya maaf, saya memang illegal, saya dari Time society!”
“Sudah kuduga, wanita ini mata mata dari Time society, pasti dia yang membunuh Doni!” kata seorang Polisi.
“Ayo ikut kami ke kantor Polisi, kamu harus di penjara!”
Seorang polisi merenggut bayi Lili dengan paksa. Polisi yang lain memborgol tangannya.
Lili teriak meraung-raung melihat bayinya dirampas.
“Biadap kalian, jangan rampas anak saya!, saya bukan pembunuh, kalian yang biadap!” teriaknya. Dia mulai berontak dan menendang-nendang Polisi didekatnya.
“Kamu bisa menjelaskan semuanya di pengadilan nanti, sekarang ikut dulu ke kantor Polisi!” kata seorang Polisi yang agak sabar dibanding temannya.

Tapi Lili tidak mendengarkan nasehat itu, dia kembali mencaci dan melawan sekuat tenaganya.
Para Polisi menjadi marah dan semakin brutal.
“Diam!, Kalau tidak bisa diam, nanti kamu saya tembak!” ancam Polisi.

Lili tidak bisa diam dan terus memaki-maki, menggigit tangan polisi, menjambak rambut mereka, dan terus menendang-nendang.
“DOR!” tiba tiba terdengar tembakan.
Lili meninggal seketika.
Bayinya menangis ketakutan.
Lili baru 18 tahun.
Karena tidak sabar menunggu Badan Seleksi Pasangan, Lili mencari jodohnya sendiri.
Malang Cintanya pergi, hanya kesengsaraan yang tersisa. Mewariskan duka pada bayinya.
Bila  mau menunggu sebentar saja, mungkin ceritanya akan berbeda.
Parahnya lagi, Lili tak bisa mengerem emosi di depan Polisi.

Putus Cinta Sudah Biasa, Putus Rem Matilah Kita.



Tamat.

 

 

 

 

Catatan Kosakata:
MS; Money Society

TS: Time Society.
BSR: Badan Seleksi Regenerasi

BSP: Badan Seleksi Pasangan

BSO: Badan Seleksi Orangtua

BPA: Badan Perawat Anak
BSPAS: Badan Seleksi Perpindahan Antar Society.